INFOGRESIK – Belasan warga Dusun Pereng Wetan, Desa Melirang, Kecamatan Bungah, mendatangi Kantor DPRD Gresik untuk memperjuangkan keadilan atas aset tanah mereka yang diklaim secara sepihak oleh PT Bungah Industrial Park (BIP), Selasa (20/1/2026).
Dalam audiensi tersebut, warga membawa bukti petok D asli dan menyatakan tidak pernah menjual lahan yang disengketakan, meskipun saat ini lahan tersebut telah diratakan.
Tangis warga pecah saat menyampaikan keresahan kepada Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir. Salah satu pemilik lahan, Suhartatik (52), mengaku terkejut melihat lahannya tiba-tiba diratakan tanpa pemberitahuan.
“Tanah kami belum terjual jangan diratakan, saya adalah saksi utama karena saya masih menggarap tanah saya selama dua bulan ini, tapi tidak ada pemberitahuan sama sekali, lahan saya tiba-tiba langsung diratakan,” kata Suhartatik dengan nada terbata-bata.
Ia menjelaskan bahwa hasil panen dari lahan tersebut selama ini digunakan untuk membiayai sekolah anaknya. “Selama ini lahan tersebut saya tanami dan ketika panen hasilnya untuk biaya sekolah anak saya. Tapi kini sudah diratakan, harapan panen pun sudah hilang, kami mohon agar bapak-bapak dewan membantu kami untuk mencari keadilan,” tambahnya.
Baca juga: Berikan Tali Asih hingga Rp100 Juta, Pembangunan Bungah Industrial Park (BIP) Gresik Dilanjutkan
Di sisi lain, pihak perusahaan yang sedianya hadir dalam mediasi meminta penjadwalan ulang. Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, menyebutkan bahwa pihak PT BIP mengaku telah mengantongi sertifikat sebagai alas hukum.
“Sebenarnya pihak PT. Bungah Industrial Park sudah perjalanan kesini (kantor DPRD Gresik). Tapi mereka meminta direschedule. Mungkin ada beberapa hal yang mereka persiapankan terkait jawaban atas mediasi ini. Tetapi mereka berkomitmen untuk menghadiri dan berkoordinasi untuk mediasi,” ujar Syahrul Munir.
Syahrul menegaskan pentingnya mediasi untuk mencegah konflik sosial. “Kita berupaya agar jangan sampai terjadi konflik sosial di tengah masyarakat. Karena itu tujuan kami, ketika ada investor yang masuk, kami sangat mendukung. Tetapi harapan kami yang paling utama, jangan sampai ini justru menimbulkan kerugian bagi masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Gresik, Husnul Fiqhan, meminta Pemerintah Kabupaten Gresik mengawasi ketat proses pembebasan lahan seluas 346 hektar tersebut.
“Harus ada peran aktif Pemerintah Kabupaten terkait pengawasan dalam proses pembangunan maupun pembebasan lahan, mulai aktif sosialisasi ke masyarakat, hingga pemetaan tanah-tanah sengketa,” ucap Fiqhan.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Project Manajer BIP, Antonius Teguh Wisnu, mengakui bahwa pembangunan proyek di wilayah Gresik Utara tersebut memang sempat memicu polemik, terutama mengenai status kepemilikan lahan.
“Ada 17 warga yang mengaku memiliki 20 petak lahan dalam proyek yang akan dibangun. Tapi kami sudah memiliki sertifikat digital yang menyatakan tanah tersebut milik kami,” jelas Teguh, Senin (12/1/2026).
Persoalan ini sebelumnya sempat masuk ke ranah hukum. Namun, berdasarkan koordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Gresik, status kepemilikan lahan seluas 116 hektare tersebut sah milik BIP dengan bukti Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB). Meski secara legal posisi perusahaan kuat, pihak manajemen tetap memilih jalur kekeluargaan dalam penyelesaiannya.
“Sebagai bentuk pertanggungjawaban, kami akan tetap memberikan tali asih yang diberikan secara proporsional kepada warga terdampak,” ungkap Teguh.
Besaran uang pengganti tersebut bervariasi antara Rp40 juta hingga Rp100 juta, tergantung luasan lahan. Selain tali asih, BIP berkomitmen untuk memprioritaskan penyerapan tenaga kerja dari warga terdampak dan masyarakat sekitar.
“Kami juga akan mendukung penuh kegiatan masyarakat setempat,” bebernya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Melirang, M. Muwaffaq, menegaskan bahwa warga yang keberatan memang tidak memiliki bukti kepemilikan sah. Menurutnya, dalam proses mediasi, warga mulai menyadari posisi hukum mereka.
“Hanya petok desa, itupun berupa fotokopi saja. Untuk aslinya sampai saat ini saya belum tahu ada atau tidak,” paparnya.
