INFOGRESIK – Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terus menemukan relevansinya di masa kini. Bagi Anggota DPRD Kabupaten Gresik, Ricke Mayumi, makna Kartini hari ini bukan sekadar simbol emansipasi, melainkan aksi nyata dalam membuka peluang ekonomi yang setara.
Dikenal sebagai “Kartini UMKM”, Ricke konsisten menunjukkan dukungannya terhadap pelaku usaha kecil dengan cara sederhana namun berdampak: membeli dan memborong produk UMKM lokal.
Politisi dari Partai Gerindra ini menilai, esensi perjuangan Kartini telah berkembang menjadi upaya menciptakan keadilan ekonomi bagi semua, khususnya perempuan yang menjadi tulang punggung usaha keluarga.
“Hari Kartini bukan semata tentang kesetaraan formal antara laki-laki dan perempuan, tetapi tentang menciptakan peluang yang setara dan adil bagi seluruh individu,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Tak berhenti pada narasi, Ricke kerap turun langsung ke lapangan menyapa pedagang dan pengrajin lokal. Aksi “memborong” produk UMKM yang ia lakukan bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk komitmen untuk menjaga roda ekonomi di tingkat akar rumput tetap bergerak.
Ia juga aktif mempromosikan UMKM melalui konten media sosial, termasuk mengangkat kisah usaha-usaha legendaris di Gresik agar semakin dikenal luas.
Menurutnya, keterbukaan pikiran dan keberanian mengambil peran menjadi kunci penting agar perempuan tidak tertinggal dalam perkembangan ekonomi. Ia berharap, gerakan mencintai produk lokal dapat menular dan menjadi budaya di tengah masyarakat.
“Kita harus memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk berdaya. Dengan peluang yang adil, perempuan Gresik bisa menjadi motor penggerak perubahan menuju masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Baca juga: Mengenal Sri Subaidah, “Kartini Hijau” di Tengah Ancaman Triple Planetary Crisis
Selain itu, Ricke juga mendorong pemerintah daerah untuk terus menghadirkan kebijakan yang berpihak pada penguatan UMKM, terutama dalam hal akses pasar dan ruang inovasi. Hal ini menjadi krusial mengingat mayoritas pelaku UMKM di Gresik adalah kaum ibu.
Momentum Hari Kartini, menurutnya, harus dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, ini adalah pengingat bagi semua pihak untuk terus membuka ruang ekonomi yang inklusif dan berkeadilan bagi perempuan.
