INFOGRESIK – Perusahaan agroindustri global, Cargill, memperkuat komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi di Indonesia melalui peluncuran program intervensi terintegrasi berbasis masyarakat di Jawa Timur.
Program ini difokuskan pada perluasan akses gizi, layanan kesehatan, penyediaan air bersih, hingga pemberdayaan ekonomi lokal.
Inisiatif tersebut selaras dengan temuan riset terbaru Resilient Food Systems Index (RFSI) dari Economist Impact yang didukung Cargill. Dalam riset itu, Indonesia menempati peringkat ke-29 dari 60 negara dengan skor keseluruhan 66,5.
Meski dinilai memiliki fondasi kuat dalam aspek keterjangkauan pangan, studi tersebut juga menyoroti tantangan pada ketersediaan dan ketahanan sistem pangan di tingkat komunitas.
“Di Cargill, kami percaya bahwa akses terhadap gizi merupakan hal mendasar untuk membangun sistem pangan yang tangguh. Indeks ini menegaskan bahwa penguatan sistem pangan membutuhkan aksi di seluruh rantai nilai,” ujar Director, Plant Management, Food Southeast Asia, Australia and New Zealand Cargill, Yusuf Ronzy, dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: Program Stunting Pemkab Gresik dan Cargill di Manyar Sasar Ratusan Warga, Capai Hasil Signifikan
Di Kabupaten Gresik, Cargill merealisasikan komitmen tersebut dengan mendukung program “Laskar Cegah Stunting” di Kecamatan Manyar. Program ini dijalankan bersama otoritas kesehatan, sekolah, dan pemangku kepentingan di enam desa.
Fokus program meliputi edukasi kesehatan ibu, pemberian ASI, serta deteksi dini masalah pertumbuhan anak. Selain pelatihan kader posyandu, program ini juga mencakup Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan penyusunan materi edukasi perubahan perilaku interaktif.
Hj. Nur Cholilah, salah satu kader Laskar Cegah Stunting di Desa Pegaden, Gresik, mengatakan program tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk bergerak bersama.
“Kami mendapat banyak pengetahuan untuk membantu ibu-ibu lainnya, mulai dari pelaksanaan kelas menyusui hingga rembuk cegah stunting guna menentukan langkah penanganan di desa,” jelasnya.
Sementara itu, ekspansi program di Kabupaten Pasuruan difokuskan pada layanan kesehatan preventif dan infrastruktur dasar bagi masyarakat rentan di sekitar wilayah operasional perusahaan, tepatnya di Desa Kepulungan dan Desa Ngerong.
Melalui kemitraan dengan puskesmas setempat, Cargill memfasilitasi klinik kesehatan masyarakat yang melayani ratusan warga setiap bulan untuk konsultasi medis dan pengobatan.
Tercatat, program pemantauan gizi di Pasuruan telah menjangkau lebih dari 440 anak dan 400 lansia. Untuk mendukung pemenuhan protein, Cargill juga mendistribusikan telur, tempe, dan susu kedelai dari UMKM lokal kepada lebih dari 1.000 penerima manfaat sepanjang 2025.
Baca juga: Dukung Agenda Nasional Pengelolaan Sampah, Cargill Raih ISDA Gold Award melalui Inisiatif Kompos 5R
Selain kesehatan, sanitasi dan ekonomi turut menjadi pilar utama program. Cargill telah membangun tujuh sumur dalam atau deep-well yang mengalirkan air bersih bagi lebih dari 10.000 warga Pasuruan.
Di bidang ekonomi, perusahaan memberikan pelatihan kewirausahaan dan pendampingan pemenuhan legalitas usaha bagi UMKM yang dipimpin perempuan.
“Dukungan Cargill dalam memfasilitasi pengurusan NIB, sertifikasi halal, SPP-IRT, hingga pelatihan digital marketing sangat membantu kami. Usaha yang sebelumnya belum memiliki legalitas kini menjadi lebih siap bersaing,” kata Sudarti, Koordinator Griya UMKM dari Desa Ngerong, Pasuruan.
Yusuf Ronzy menegaskan, membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Membangun sistem pangan yang tangguh membutuhkan kolaborasi berkelanjutan lintas sektor dan aksi nyata di lapangan,” pungkasnya.
