INFOGRESIK – Suasana ujian di kelas VI Cello SD Muhammadiyah 1 GKB pada Rabu (6/5/2026) tampil berbeda dari biasanya. Alih-alih hening mengerjakan soal di atas kertas, ruang kelas justru riuh oleh diskusi dan klik tetikus saat para siswa melaksanakan ujian mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) melalui model presentasi proyek digital.
Guru pengampu KKA SD Mugeb, Indra Setiawan, menjelaskan bahwa tahun ini pihaknya melakukan terobosan dalam sistem penilaian dengan mengalihkan tugas individu menjadi kolaborasi kelompok.
“Ujian ini pertama kali kami laksanakan dengan model presentasi. Biasanya masing-masing anak mengerjakan tugas secara individu,” ujar Indra.
Selama tiga pekan terakhir, para siswa merakit gim interaktif menggunakan aplikasi Tynker dan Scratch. Salah satu kelompok, Aqila Sakhi Nameera dan Alyandra Fatahillah, mempresentasikan gim bertajuk Trash Catcher. Proyek ini didasari atas keprihatinan mereka terhadap kondisi bumi.
“Masalah sampah yang terus meningkat dapat merusak lingkungan dan ekosistem,” ungkap Nameera saat menjelaskan latar belakang proyeknya. Ia menambahkan bahwa gim tersebut bertujuan mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan dengan cara yang menyenangkan agar terbentuk kebiasaan baik sejak dini.
Dalam ujian tersebut, Indra juga menguji ketangkasan logika koding siswa dengan memberikan tantangan langsung secara real-time. Ketika diminta menambahkan jenis sampah baru seperti tulang ikan, para siswa SD Mugeb mampu mengintegrasikan aset visual baru ke dalam aplikasi Tynker saat itu juga di hadapan penguji.
Kreativitas lain ditunjukkan oleh Alifiandra Widi Aditya dan Muhammad Rafid Al Fatih yang menggunakan karakter rakun sebagai tokoh utama.
“Karena rakun tidak bersahabat dengan lingkungan. Di kartun yang pernah saya tonton, rakun suka membongkar sampah dan menjatuhkannya,” jelas Alif.
Selain platform Tynker, beberapa siswa seperti Muhammad Hafiz Al Basyir memilih menggunakan aplikasi Scratch. Hafiz menciptakan gim berjudul Feeding Frenzy yang membawa pesan lingkungan unik.
“Kalau aku membuat Feeding Frenzy, penyelam menyelam sambil membawa sampah. Semakin banyak membawa sampah, tubuh penyelam akan semakin besar,” kata Hafiz.
Melalui ujian berbasis proyek ini, Indra Setiawan berharap teknologi dapat menjadi media bagi siswa SD Mugeb untuk mengasah empati terhadap isu global sekaligus memecahkan masalah teknis melalui logika koding.
