INFOGRESIK – Kuliner legendaris di Kabupaten Gresik terus menunjukkan eksistensinya sebagai bagian dari penggerak ekonomi lokal. Salah satunya Warung Kare Ayam Pelabuhan Bu Mani yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso Utara No. 1B, Kelurahan Bedilan, Kecamatan Gresik.
Warung yang berdiri sejak 1972 ini menjadi salah satu jujukan warga untuk sarapan. Kini dikelola generasi ketiga, warung tersebut tetap mempertahankan cita rasa otentik kuah kare yang kental, gurih, dan kaya rempah. Kuliner ini juga dikenal masyarakat setempat dengan sebutan Nasi Adun.
Mahmudah, generasi ketiga penerus usaha keluarga, menuturkan bahwa warung tersebut dirintis keluarganya yang berasal dari Bangkalan, Madura.
Baca juga: Mengenal Warkop Makju, Legenda Kopi Gresik Utara yang Cita Rasanya Sampai ke Tanah Suci
“Awalnya orang tua merantau dari Madura ke Gresik. Sampai sekarang masih diteruskan keluarga dan alhamdulillah tetap ramai,” kata Mahmudah, Minggu (24/5/2026).
Menurut Mahmudah, meski menggunakan ayam kampung, sajian kare ayam di warungnya tetap empuk berkat proses pengolahan dan bumbu rempah khas yang dipertahankan turun-temurun.
“Dalam sehari, rata-rata menghabiskan sekitar 30 ekor ayam kampung,” ucapnya.

Meski berada di dalam gang sempit, warung ini tak pernah sepi pembeli. Pelanggannya datang dari berbagai kalangan, mulai pekerja perkantoran, pegawai pelabuhan, hingga masyarakat umum yang sengaja datang untuk menikmati cita rasa khasnya.
Salah satunya Ricke Mayumi, pelanggan setia sejak kecil. Ia mengaku kerap datang ke warung tersebut, namun sering kehabisan.
“Saya sering ke sini, tapi kehabisan. Ini pesan dulu biar gak kehabisan,” ujar Ricke.
Anggota DPRD Gresik itu menilai, usaha mikro seperti Warung Kare Ayam Bu Mani bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari identitas budaya sekaligus penopang ekonomi masyarakat sekitar pelabuhan.
Baca juga: Menjaga Cita Rasa 40 Tahun, Kurnia Jaya Jadi Ikon Kuliner Kota Lama Gresik
“Warung Kare Ayam Bu Mani ini adalah bukti nyata bagaimana UMKM di Gresik mampu bertahan lintas zaman hingga tiga generasi tanpa kehilangan karakternya. Rasa rempahnya tetap otentik seperti dulu,” ungkapnya.
Dengan harga Rp27.000 per porsi, warung ini buka sejak pukul 05.00 WIB dan biasanya sudah habis terjual sekitar pukul 09.00 WIB.
