INFOGRESIK – Semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini kini menemukan bentuk baru di garis depan pelestarian lingkungan. Di Kabupaten Gresik, sosok Sri Subaidah hadir sebagai representasi nyata “Kartini Hijau” — perempuan yang memimpin upaya penyelamatan bumi di tengah krisis global.
Peran tersebut menjadi semakin relevan ketika dunia, termasuk Indonesia, menghadapi apa yang disebut Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai Triple Planetary Crisis: perubahan iklim, polusi (khususnya sampah plastik), dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Bagi Sri Subaidah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, perjuangan lingkungan hari ini memiliki urgensi yang tak kalah besar dibanding perjuangan kesetaraan perempuan di masa lalu.
“Refleksi Kartini adalah memperjuangkan sesuatu untuk kebaikan kaum perempuan. Kami saat ini juga berjuang karena kondisi lingkungan sedang tidak baik-baik saja. Kami meniru semangat juang Kartini untuk mengubah lingkungan menjadi lebih baik,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Ia menegaskan, kerusakan lingkungan sebagian besar bersumber dari aktivitas manusia. Karena itu, peran perempuan — khususnya ibu — menjadi sangat strategis sebagai “madrasah pertama” dalam keluarga untuk menanamkan kebiasaan ramah lingkungan sejak dini, seperti memilah sampah dan menjaga kelestarian sekitar.
Untuk menjawab tantangan tersebut, DLH Gresik menginisiasi berbagai langkah kolaboratif. Salah satunya melalui program Gresik Kawasan Merdeka Sampah yang menggandeng penggerak PKK dalam pendekatan pentahelix. Targetnya jelas: satu Bank Sampah di setiap RW sebagai upaya menekan timbulan sampah.
Hasilnya mulai terlihat. Sejumlah capaian signifikan berhasil diraih, di antaranya:
- 336 Bank Sampah telah terbentuk sebagai solusi penanganan polusi.
- 55 Kampung Iklim (Proklim) sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.
- Ratusan penghargaan Adiwiyata: 45 Mandiri, 23 Nasional, 45 Provinsi, dan 223 tingkat Kabupaten.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Tanggung Jawab Besar
Di balik tanggung jawab besar sebagai kepala OPD, Sri tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas utama. Ia meyakini bahwa dukungan keluarga menjadi fondasi penting dalam menjalankan tugasnya.
Baca juga: Bupati Lamongan ‘Meguru’ ke Gresik, Siap Bangun TPST Kolaboratif
“Sebagai kepala dinas, keluarga tetap nomor satu. Anak dan suami adalah pilar. Keyakinan itu memberi ketenangan yang sangat memengaruhi kinerja saya,” tuturnya.
Menutup refleksi Hari Kartini, Sri Subaidah menyampaikan harapan akan lahirnya lebih banyak “Kartini Muda” yang menghadirkan inovasi demi keberlanjutan bumi.
“Semoga muncul generasi perempuan yang menjadi penyelamat bumi, menciptakan inovasi, dan mengembalikan kehijauan untuk anak cucu kita. Semangat Kartini harus tetap hidup dan pantang menyerah,” pungkasnya.
Di bawah kepemimpinannya, DLH Gresik terus bertransformasi menjadi institusi yang adaptif dan inovatif dalam menghadapi tantangan Triple Planetary Crisis, demi masa depan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
