INFOGRESIK – Di bawah naungan arsitektur merah khas Klenteng Kim Hin Kiong yang bersejarah, aroma harum mawar menyerbak tipis di udara Jalan Dr. Setia Budi, Kelurahan Pulopancikan. Namun, mawar-mawar ini istimewa. Ia tidak tumbuh dari tanah, melainkan lahir dari limbah dapur.
Menyambut Hari Ibu pada 22 Desember 2025, Asosiasi Bank Sampah Gresik (ASBAG) menggelar silaturahmi ke-5 dengan cara yang tak biasa. Mereka membagikan puluhan bunga mawar hasil olahan minyak goreng bekas atau jelantah kepada para ibu di kawasan Klenteng Gresik tersebut.
Aksi ini seolah menjadi simbol kuat, bahwa di tangan seorang ibu, sesuatu yang dianggap limbah dan merusak lingkungan bisa bertransformasi menjadi sesuatu yang indah dan penuh makna.
Di tengah kerumunan ibu-ibu yang antusias, Siti Fitria, Ketua ASBAG sekaligus pegiat lingkungan yang tak kenal lelah, tampak penuh semangat. Momentum spesial ini ia gunakan untuk meluncurkan dua buah karya tulisnya yang mendalam: “Wanita Penjaga Bumi” dan “Bertumbuh Bersama Luka”.
Dua judul buku ini bukan sekadar rangkaian kata. Bagi Fitria, buku tersebut adalah potret perjuangan para ibu yang selama ini bergerak di garda terdepan pelestarian lingkungan melalui bank sampah.
“Hari Ibu adalah perayaan atas peran besar seorang perempuan dalam keluarganya—untuk suami, anak-anak, hingga lingkungan sosialnya,” ujar Fitria dengan nada haru, Minggu (21/12/2025).
Baca juga: Dari Dapur ke Aksi Hijau, KKN-T UNESA Kenalkan Ecoenzim kepada Warga Bangeran
Ia menyadari betul bahwa rata-rata pegiat bank sampah di Gresik adalah para ibu. Mereka adalah sosok yang setiap hari bergulat dengan limbah rumah tangga, namun tetap mampu menjaga kehangatan di dalam rumah.
Pemilihan lokasi di Klenteng Kim Hin Kiong memberikan nuansa keberagaman yang kental, menunjukkan bahwa semangat menjaga lingkungan melampaui sekat-sekat perbedaan.
Puluhan bunga mawar dari jelantah yang dibagikan menjadi pengingat nyata bahwa jika limbah minyak saja bisa menjadi cantik, maka setiap masalah di tangan seorang ibu pasti memiliki jalan keluar yang indah.
“Kami ingin mengajak Ibu-ibu terus kreatif dalam mengolah limbah. Sehingga lingkungan tetap bersih dan juga tetap dapat cuan,” ucapnya.
Melalui acara silaturahmi ini, ASBAG ingin menegaskan bahwa menjadi ibu berarti menjadi penjaga—penjaga generasi, sekaligus penjaga bumi. Di tangan para “Wanita Penjaga Bumi” inilah, masa depan lingkungan Gresik dititipkan, satu botol jelantah dan satu kuntum mawar pada satu waktu.
“Tidak ada yang benar-benar menjadi sampah, semua menunggu kita peduli. Harapannya bunga dan buku ini akan menjadi salah satu pintu solusi dari permasalahan, khususnya Gresik dan pada umumnya dunia, bahwa ibu dan rumah adalah solusi permasalahn sampah,” kata Fitria.
