INFOGRESIK – Ribuan warga Desa Pejangganan, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, mengikuti dengan khidmat Puncak Haul Mbah Jogo Reso ke-77, Haul Mbah Lintang Kuning ke-7, serta haul para sesepuh desa. Kegiatan ini digelar di halaman Masjid Baitul Muti’in, Desa Pejangganan, pada Jumat (25/07/2025).
Peringatan haul dua tokoh legendaris yang dikenal sebagai “pembabat alas” atau leluhur Desa Pejangganan tersebut berlangsung istimewa, karena dilaksanakan tepat setelah Salat Jumat di minggu terakhir bulan Muharam 1447 H.
Pada puncak acara haul tahun ini, masyarakat disuguhi pengajian umum yang menghadirkan KH. Mas’ud Irfan, atau yang dikenal dengan Gus Gondrong dari Bojonegoro, serta Grup Hadrah Nur Muhammad.
Rangkaian acara haul digelar selama tiga hari berturut-turut. Dimulai pada Rabu (23/07/2025) dengan Istighosah, dilanjutkan Kamis (24/07/2025) dengan Khotmil Qur’an dan doa bersama, dan ditutup pada Jumat (25/07/2025) dengan pengajian umum.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Pejangganan, Agus Candra, menyampaikan bahwa kegiatan haul ini merupakan agenda tahunan yang rutin diselenggarakan. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para leluhur, kegiatan ini juga bertujuan melestarikan tradisi spiritual yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Lebih lanjut, Agus Candra menjelaskan bahwa haul bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat kerukunan antarwarga.
“Melalui haul ini, kami yakin akan membawa keberkahan bagi warga Desa Pejangganan, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan mempererat persaudaraan antarwarga,” ujar Agus Candra.
Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus Ketua BPD Desa Pejangganan, Jumadi, menuturkan bahwa Mbah Jogo Reso dan Mbah Lintang Kuning dikenal sebagai tokoh yang membuka hutan (babat alas) serta turut menyebarkan ajaran Islam di wilayah Pejangganan.
Salah satu peninggalan mereka yang masih dijaga hingga kini adalah sebuah surau atau langgar di tepi sendang (mata air), yang airnya tak pernah surut meski di musim kemarau. Air dari sendang tersebut masih dimanfaatkan warga hingga sekarang.
“Sumber airnya tidak pernah surut. Warga sering mengambil air untuk mandi dan menyiram tanaman saat musim kemarau,” tutur Jumadi.
Sebagai informasi, berdasarkan literatur tentang leluhur Desa Pejangganan, Mbah Jogo Reso berasal dari Mataram–Surakarta. Ia merupakan murid dari Raja Mataram pertama yang dikenal sebagai Pangeran Samber Nyowo, yang lahir pada tahun 1461.
Kisah perjalanan hidupnya bermula saat terjadi perang saudara di Kerajaan Majapahit (Bubat). Dalam peristiwa itu, Mbah Jogo Reso terpisah dari para prajuritnya dan kemudian memulai pengembaraan tanpa arah. Dalam kelelahan dan kehausan, ia menemukan sumber air dan membangun sebuah gubuk di tepinya, yang kini dikenal sebagai sendang.
Dalam perjalanannya, Mbah Jogo Reso bertemu dengan Sunan Dalem, putra Sunan Giri. Awalnya terjadi ketidaksepahaman antara keduanya yang berujung pada pertarungan. Meski Mbah Jogo Reso sempat mengungguli karena memiliki keahlian ilmu kanuragan, pada akhirnya keduanya saling menghormati dan menjadi sahabat.
Mereka pun kerap berdiskusi tentang agama. Sebelum berpisah, Mbah Jogo Reso memeluk agama Islam dan melanjutkan perjuangannya dalam menyebarkan Islam di kawasan tersebut. Ia wafat pada tahun 1747 dan dimakamkan di sebelah barat Desa Pejangganan.
