INFOGRESIK — Program Besali Studi Kultural 2026 resmi memulai rangkaian kegiatannya melalui Kelas Pengantar Program yang digelar di Creative Hubs Gresiknesia. Program ini hadir sebagai upaya membuka ruang pembacaan baru tentang Gresik di tengah dinamika perubahan sosial, perkembangan kawasan industri, dan pertumbuhan wilayah yang terus berlangsung.
Kegiatan perdana tersebut mempertemukan enam kelompok penyaji terpilih dengan para fasilitator dari berbagai latar belakang keilmuan dan praktik kebudayaan. Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam proses riset, observasi, dan penelusuran berbagai pengalaman sosial budaya yang hidup di tengah masyarakat Gresik.
Enam kelompok yang lolos kurasi terdiri dari Power Art (Komunitas Seni), Gresik Book Party (Klub Baca), CYG Team (Duta Wisata), DKV UISI (Akademisi), Niti Narasi (Kelompok Kepenulisan), dan Kronika Smanim (Pecinta Sejarah).
Keragaman latar belakang peserta menjadi cerminan bahwa pengetahuan mengenai Gresik tidak lahir dari satu disiplin ilmu atau satu sudut pandang semata. Sebaliknya, pemahaman tentang daerah ini tumbuh dari berbagai pengalaman, praktik, dan cara masyarakat memaknai kehidupannya sehari-hari.
Baca juga: Gaet 428 Pengunjung, Pameran DKV UISI “DKVISERION 2026” Sukses Angkat Heritage Gresik
Melalui Besali Studi Kultural, para peserta didorong melakukan riset, observasi, percakapan, hingga penelusuran terhadap berbagai fenomena yang membentuk kehidupan masyarakat Gresik. Fokus kajian mereka mencakup sejarah dan ingatan kolektif, praktik kebudayaan, ruang-ruang sosial, hingga berbagai pengalaman keseharian yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Selama beberapa bulan ke depan, keenam kelompok akan menjalani proses pendampingan bersama fasilitator. Hasil pengamatan dan pembacaan mereka nantinya akan dikembangkan menjadi produk tekstual berupa e-magazine serta berbagai bentuk presentasi publik.
Seluruh hasil riset tersebut akan dipresentasikan dalam Festival Menjadi Gresik 2026 yang diselenggarakan Yayasan Gang Sebelah pada Agustus mendatang. Tahun ini, festival mengusung tema “Dapur Saji”.
Tema tersebut berangkat dari pemahaman bahwa Gresik merupakan wilayah yang terus mengolah berbagai pengalaman, pengetahuan, dan perjumpaan menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Dapur dimaknai sebagai ruang tempat berlangsungnya proses fermentasi pengalaman menjadi pengetahuan dan pembentukan ingatan atas berbagai perubahan sosial yang terjadi.
Sementara itu, “saji” dipahami sebagai cara menghadirkan kembali pengalaman tersebut kepada publik melalui berbagai medium, mulai dari cerita, arsip, film, tulisan, pameran, pertunjukan, hingga ekspresi budaya lainnya.
Baca juga: Irfan Akbar Kembali Jadi Ketua Dewan Kebudayaan Gresik Periode 2025–2028
Direktur Festival Menjadi Gresik 2026, Hidayatun Nikmah, mengatakan Besali Studi Kultural merupakan salah satu ikhtiar untuk memperluas cara masyarakat memahami Gresik melalui pengalaman warganya sendiri.
“Menjadi Gresik berangkat dari keyakinan bahwa warga bukan sekadar objek yang diceritakan, melainkan subjek yang memiliki otoritas untuk mengolah dan menyajikan cerita mereka sendiri. Festival ini berupaya membuka ruang agar pengalaman warga dapat hadir sebagai pengetahuan yang hidup,” ujarnya.
Melalui Besali Studi Kultural, Yayasan Gang Sebelah berharap lahir berbagai pembacaan baru yang dapat memperkaya narasi tentang Gresik. Program ini menjadi penanda bahwa Gresik tidak hanya dibangun oleh pembangunan yang tampak secara fisik, tetapi juga oleh cerita-cerita yang terus hidup, dipertukarkan, dan diwariskan oleh warganya dari generasi ke generasi.
