INFOGRESIK – Aroma khas temulawak merebak dari dapur sederhana milik Siti Nur Afidah (47) di Kelurahan Ngipik, Kecamatan Gresik. Di tempat itulah perempuan yang akrab disapa Afidah ini meracik dan mengemas minuman tradisional yang kini menjadi sumber penghidupan keluarganya.
Di balik setiap botol temulawak yang diproduksi, tersimpan perjuangan panjang seorang ibu untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mewujudkan cita-cita kedua anaknya.
Usaha jamu rumahan yang dirintis sejak 2019 itu sempat berjalan tertatih. Keterbatasan modal dan pasar yang sempit membuat penjualannya tidak berkembang signifikan. Saat itu, pemasaran hanya mengandalkan penjualan dari rumah ke rumah, status WhatsApp, hingga grup jual-beli lokal.
“Dulu jualannya cuma dari rumah ke rumah, lewat status WhatsApp, atau grup lapak. Lakunya lama sekali,” kenang Afidah, Selasa (9/6/2026).
Baca juga: Petrokimia Gresik Gelontorkan Rp1,8 Miliar untuk Salurkan 187 Hewan Kurban pada Iduladha 1447 H
Perubahan mulai dirasakan ketika Afidah bergabung dalam Program Kelompok Jajanan Masyarakat Sekitar (Lontar), salah satu program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Petrokimia Gresik yang berfokus pada pemberdayaan pelaku usaha mikro di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Melalui program tersebut, Afidah tidak hanya mendapatkan bantuan sarana produksi, tetapi juga pendampingan menyeluruh untuk mengembangkan usahanya. Mulai dari pengurusan izin usaha, sertifikasi produk, hingga proses uji laboratorium yang sebelumnya sulit dijangkau karena keterbatasan biaya.
“Kalau tidak ada pendampingan, kami tidak bisa jalan. Untuk bahan, alat, sertifikasi, tes, itu semua sulit dan biayanya tidak sedikit,” ujarnya.
Selain aspek legalitas, peserta program juga mendapatkan pelatihan pengemasan produk agar lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan pasar modern. Dari kemasan sederhana, produk Afidah kini tampil lebih profesional dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Saat ini, Afidah mampu memproduksi sekitar 100 botol temulawak setiap hari. Dalam kondisi normal, stok tersebut biasanya habis dalam dua hingga tiga hari. Namun ketika permintaan meningkat, terutama saat bazar atau momen tertentu, seluruh produk bisa ludes dalam hitungan jam.
Baca juga: Petrokimia Gresik Sokong Lahirnya “Trate Rasa” sebagai Pusat Ekonomi Baru di Kelurahan Trate
Pada Ramadan lalu, misalnya, permintaan melonjak drastis hingga ia harus memproduksi ulang setiap malam untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
“Waktu puasa kemarin, sekali bikin 100 botol langsung habis dalam satu hari. Malamnya bikin lagi untuk besok. Begitu terus,” tuturnya.
Tak hanya temulawak, usaha Afidah kini berkembang dengan menghadirkan berbagai produk lain seperti kacang telur kemasan, kolak kacang hijau, dan aneka jajanan pasar. Jangkauan pasarnya pun semakin luas, termasuk melalui berbagai kegiatan internal perusahaan yang turut mendukung promosi produk UMKM binaan.
Peningkatan usaha tersebut membawa dampak nyata bagi perekonomian keluarga. Dari hasil penjualan produk-produk tersebut, Afidah mampu membantu membiayai pendidikan anak-anaknya. Anak sulungnya kini telah bekerja, sementara anak bungsunya sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Keberhasilan Afidah mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Gresik, Darmawan. Menurutnya, kolaborasi antara perusahaan dan pelaku UMKM menjadi strategi penting untuk memperkuat daya saing usaha mikro di tengah perkembangan ekonomi digital.
Baca juga: PT Petro Oxo Nusantara Perkuat UMKM Lewat MoU dan Pelatihan Mitra Binaan 2026
“Melalui pelatihan terstruktur, pelaku UMKM dibekali kapasitas manajemen, literasi keuangan, hingga strategi pemasaran digital. Akses permodalan yang mudah juga membantu mereka memperluas jangkauan pasar,” jelas Darmawan.
Ia berharap keberhasilan yang diraih Afidah dapat menjadi inspirasi sekaligus contoh bagi pelaku usaha mikro lainnya di Gresik untuk terus berkembang melalui pendampingan yang tepat.
Dari usaha yang dahulu hanya mengandalkan promosi sederhana melalui status WhatsApp, Afidah kini membuktikan bahwa ketekunan, kemauan belajar, dan dukungan pendampingan yang berkelanjutan mampu mengubah usaha rumahan menjadi UMKM yang mandiri, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi keluarga.
