INFOGRESIK – Di tengah meningkatnya isu lingkungan, puluhan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu (PW) dari Dinas Pendidikan Kecamatan Manyar mengambil langkah nyata menjaga kelestarian alam.
Bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik, mereka menggelar aksi tanam pohon bertajuk SAJI SAPO (Satu Jiwa Satu Pohon) di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Sampah Ngipik, Senin (15/12/2025).
Aksi tersebut melibatkan total 96 orang, terdiri atas 58 PPPK PW Dispendik Manyar yang merupakan guru SD Negeri se-Kecamatan Manyar, serta 38 perwakilan dari DLH, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), dan Dinas Sosial (Dinsos). Mereka secara gotong royong menanam puluhan bibit pohon tabebuya, jenis tanaman yang dikenal indah sekaligus efektif menyerap karbon.
Perwakilan PPPK Paruh Waktu sekaligus guru UPT SD Negeri 43 Gresik, Ezar Bahri Hillan, menjelaskan bahwa kegiatan SAJI SAPO bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan di Kabupaten Gresik.
Baca juga: Bersama Wilmar Nabati, DLH Gresik Tanam 1.000 Mangrove di Kawasan Pesisir
“Alasan kami mengadakan dan mengikuti SAJI SAPO ini yang pertama adalah menindaklanjuti surat dari Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Gresik terkait perlindungan pohon,” ujar Ezar.
Namun demikian, ia menegaskan alasan yang lebih mendesak adalah kondisi geografis Gresik sebagai kota industri. “Gresik ini kota industri. Otomatis banyak pabrik dan perumahan, sehingga ruang terbuka hijau (RTH) di Kabupaten Gresik sangatlah kurang. Dengan adanya program ini, sangat membantu untuk menambah RTH di Kabupaten Gresik,” tegasnya.
Inisiatif tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah daerah. Kepala DLH Kabupaten Gresik, Sri Subaidah, menyampaikan apresiasi atas langkah yang digagas para tenaga pendidik PPPK Paruh Waktu Manyar.
“Kami sangat mengapresiasi langkah teman-teman PPPK Paruh Waktu Manyar yang sudah berinisiatif melakukan penanaman pohon ini. Penanaman di TPA Ngipik ini strategis untuk membantu proses penghijauan sekaligus mitigasi dampak lingkungan dari aktivitas TPA,” ujar Sri.
Lebih lanjut, Sri Subaidah menekankan bahwa program SAJI SAPO merupakan upaya kolektif yang perlu terus digalakkan, mengingat Gresik merupakan kawasan industri yang padat aktivitas.
Baca juga: Tanam Pohon hingga Adopsi Magot, Cara PLN Nusantara Power Rayakan HUT
“Penghijauan di Gresik bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Dengan banyaknya pabrik dan kendaraan, pohon menjadi paru-paru kota. Setiap satu pohon yang ditanam adalah investasi besar bagi kualitas udara dan keseimbangan ekosistem Gresik di masa depan,” jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk instansi swasta dan sektor industri, untuk mendukung program penanaman pohon secara berkelanjutan agar target RTH di Kabupaten Gresik dapat terpenuhi.
Aksi SAJI SAPO ini membuktikan bahwa kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan dapat datang dari berbagai sektor, termasuk dunia pendidikan. Dengan menanam pohon tabebuya, para peserta tidak hanya menjalankan kewajiban sosial, tetapi juga menanam harapan akan udara yang lebih bersih dan masa depan yang lebih hijau bagi generasi mendatang di Kota Pudak.
