INFOGRESIK – Di tengah gempuran kuliner modern yang serba instan, Pudak Cap Kuda “Nyonya Tjioe” di Jalan AKS Tubun, Pulopancikan, Gresik, tetap berdiri tegak sebagai saksi sejarah. Dirintis sejak tahun 1950, usaha ini bukan sekadar toko oleh-oleh, melainkan penjaga rasa otentik yang menghadirkan nostalgia lintas generasi.
Kini memasuki generasi ketiga, pengelola Suharsih mengungkapkan bahwa kunci utama keberlangsungan usaha selama lebih dari tujuh dekade terletak pada konsistensi menjaga resep warisan keluarga.
Keunikan Pudak Cap Kuda juga tercermin dari filosofi namanya. Terinspirasi dari shio kuda, tersimpan harapan agar usaha ini terus “berlari” menembus zaman. Namun, di balik semangat tersebut, Suharsih menegaskan bahwa mereka tidak mengejar pasar secara agresif, melainkan berpegang pada prinsip lumintu—mengalir apa adanya namun berkelanjutan.
“Yang datang kebanyakan ingin bernostalgia. Banyak yang sudah sepuh, datang untuk membeli rasa yang sama seperti dulu,” ungkap Suharsih, Minggu (12/4/2026).
Baca juga: Menikmati Kelezatan Rujak Cingur Bu Is Sidomoro Kebomas, Kuliner Legendaris Sejak 2003
Kesederhanaan dan kejujuran rasa justru menjadi kekuatan utama. Tak heran, pelanggan setia terus berdatangan, termasuk dari kalangan pejabat. Pada era Orde Baru, Pudak Cap Kuda bahkan menjadi langganan keluarga Presiden Soeharto hingga menteri seperti Harmoko.
“Dulu Bu Tutut dan Pak Harmoko sering beli, tapi tidak datang langsung. Biasanya ajudannya yang datang. Mereka mencari rasa yang otentik,” kenang Suharsih.
Melawan Zaman dengan Tradisi
Hingga kini, proses produksi tetap mempertahankan cara tradisional demi menjaga kualitas. Untuk satu batch pudak biasa, dibutuhkan waktu sekitar tiga jam, sementara varian jubung bisa mencapai lima jam. Bahkan, kemasan yang dahulu dijahit manual masih menjadi bagian dari memori panjang perjalanan usaha ini.
Kualitas yang terjaga turut dirasakan oleh Ricke Mayumi. Ia mengaku sejak kecil sudah akrab dengan pudak Cap Kuda, dan hingga kini rasanya tetap konsisten.
Baca juga: Jejak Rasa Giri Kedaton, Pasar Panganan Giri Biyen Jadi Wadah Penyelamatan Kuliner Langka
“Rasanya tetap seperti dulu, saat kecil pertama mencicipi pudak ini. Ke sini membeli rasa, dan memang otentik,” ujarnya.
Saat ini, produksi harian mencapai sekitar 500 biji dan dapat meningkat hingga 1.000 biji saat akhir pekan. Pudak dijual per paket (10 biji) seharga Rp60 ribu, jubung Rp40 ribu per boks, serta otak-otak bandeng Rp65 ribu.
Di tangan generasi ketiga, Pudak Cap Kuda membuktikan bahwa resep tradisional dan prinsip hidup bersahaja bukan sekadar warisan, melainkan kunci untuk tetap bertahan di tengah arus perubahan zaman.
