INFOGRESIK – Keruhnya air laut ditambah sampah serta sedikitnya hasil tangkapan ikan jadi momok menakutkan para nelayan di perairan Kabupaten Gresik.
Hal itu tergambar dalam pameran seni rupa yang diadakan Biennale Jawa Timur di Pudak Galeri Jl. Pahlawan No. 26, Bedilan, Gresik. Total ada 67 seniman dari berbagai kota dan negara yang terlibat dalam edisi kesebelas Biennale Jatim ini.
Adapun seniman internasional turut ambil bagian, antara lain Lisette Ross (Amsterdam), Satsuki Imai (Tokyo), Ryuichi Sakazaki (Fukuoka), Terae Keiichiro (Seoul), Artcom (Kazakhstan), Dam-Dam Collective (Amsterdam), dan Yawen Fu (Taiwan/Amsterdam).
Baca juga: Pameran “Pomah” di Galeri Loteng, Tandai 1 Dekade Kiprah Gerakan Seni Rupa Gresik
Dengan mengusung tema “Hantu Laut”, Biennale ke-XI ini ingin menegaskan pentingnya mendengarkan suara-suara pesisir, baik melalui karya seni maupun praktik sosial, dalam merespons dinamika kontemporer.
“Kami mencari karya yang betul-betul merepresentasikan kondisi pesisir Jawa Timur hari ini,” ujar salah satu kurator Elyda K. Rara saat pembukaan pameran, Minggu (24/8/2025).
Dijelaskan Elyda, saat ini “hantu laut” hadir dalam wujud nyata yaitu laut yang keruh, pasir yang tak lagi putih, nelayan yang kehilangan ruang tangkap, hingga pesisir yang dipenuhi sampah industri. Adapun tema ini terinspirasi dari kondisi laut di Kelurahan Lumpur, Kecamatan Gresik.
“Bukan lagi soal yang kasat mata, melainkan ancaman yang nyata bagi kehidupan masyarakat pesisir,” terangnya.
Salah satu seniman, Bintang Tanatimur, menampilkan karya instalasi ribuan kaleng bekas minuman dan makanan sepanjang 12 meter yang digantung hingga membentuk layaknya ombak. Hal ini sebagai kritik atas budaya konsumsi sekaligus pencemaran laut.

Tak kalah menarik, kolaborasi seniman Gresik Ria A. Dinata dan seniman Tangerang Gardika Gigih menampilkan tempat persembahyangan nelayan dengan selambu putih melingkar.
“Kami ingin menunjukkan bahwa di tengah kondisi apa pun nelayan punya cara tersendiri dalam berdoa di tengah hiruk pikuk kehidupan,” kata Ria.
Tak sekadar melihat, dalam pameran yang digelar mulai 24 Agustus sampai 20 September 2025 ini para pengunjung juga bisa menulis harapan dan membatik.
