INFOGRESIK – Bagi NZ, bocah berusia 4 tahun, dunia seharusnya masih dipenuhi tawa riang di bangku PAUD serta pelukan hangat seorang ibu. Namun, takdir berkata lain. Kenyataan pahit menghampirinya terlalu dini.
Di balik keceriaannya, NZ masih menyimpan bayang-bayang kelam dari sebuah malam tragis pada tahun 2024. Saat itu, ibunya, Wardatun Thoyyibah, menjadi korban perampokan yang berujung pada pembunuhan keji di rumah mereka, Desa Imaan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik.
Kini, NZ lebih banyak menghabiskan hari-harinya di rumah sang nenek, Bu Zaini. Namun sejauh apa pun langkah kecilnya melangkah, rindu kepada sang ibu tak pernah benar-benar pergi.
Ayah NZ, Mahfud (42), hanya bisa terdiam dengan dada sesak setiap kali putri kecilnya menanyakan keberadaan sang ibu. Keinginan NZ yang begitu polos justru menjadi luka terdalam bagi Mahfud.
Baca juga: Ditemukan Ada Perencanaan saat Rekonstruksi Pembunuhan di Imaan, Midhol Terancam Hukuman Mati
“Anakku njaluk numpak pesawat nang surgo nemoni ibu e (Anak saya minta naik pesawat ke surga untuk menemui ibunya),” ungkap Mahfud dengan suara bergetar, Kamis (22/1/2026).
Derita keluarga ini kian bertambah seiring panjangnya proses hukum. Ahmad Midhol (39), otak pelaku perampokan yang menggondol uang Rp150 juta serta sebuah ponsel dari laci korban, sempat menghilang bak ditelan bumi. Setelah lebih dari satu tahun masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), pelariannya akhirnya berakhir di sebuah perkebunan sawit di Kalimantan Tengah.
Namun, keadilan yang dinanti terasa belum sepenuhnya memuaskan. Dalam sidang tuntutan pada Senin (19/1/2026), Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Gresik menuntut Ahmad Midhol dengan hukuman penjara selama 14 tahun, dikurangi masa tahanan.
Bagi keluarga korban, tuntutan tersebut dinilai belum sebanding dengan nyawa yang melayang serta trauma yang membekas sepanjang hidup.
“Kami ingin pelaku dihukum yang setimpal,” tegas Mahfud.
Meski dihantui kenangan pahit di rumah yang menjadi saksi tragedi, Mahfud berusaha tetap tegar. Hidup harus terus berjalan, terlebih demi masa depan NZ yang masih panjang.
Untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan sekolah anaknya, Mahfud tetap menekuni pekerjaan yang dulu juga dijalani almarhumah istrinya. Saat ini, ia masih bertahan dengan usaha sebagai agen BRILink demi menghidupi putri kecilnya.
