INFOGRESIK — Dinas Pertanian Kabupaten Gresik menggelar kegiatan “Aksi Stop Boros Pangan” di Ruang Rapat Sacharosa Lantai 2 Kantor Dinas Pertanian, Selasa (19/5/2026). Kegiatan ini menjadi langkah edukatif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terkait penyelamatan pangan sekaligus penanganan limbah sisa makanan (food waste) di Kabupaten Gresik.
Dalam agenda tersebut, dua anggota Komisi 2 DPRD Kabupaten Gresik, Muhammad Ainul Yaqin dan Ricke Mayumi, hadir sebagai narasumber utama membahas solusi pengelolaan sampah organik dari hulu hingga hilir.
Politisi Partai NasDem Muhammad Ainul Yaqin mendorong pemanfaatan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly sebagai solusi efektif dan efisien untuk mengurai sampah sisa makanan.
Baca juga: Peringati Hari Bumi, Fraksi PKB DPRD Gresik Dorong Solusi Konkret Atasi Krisis Sampah Plastik
Menurutnya, maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik dalam waktu singkat sehingga berpotensi mendukung gerakan zero waste di masyarakat.
“Penanganan sampah organik dengan maggot ini memiliki manfaat yang sangat besar, tidak hanya dari sisi lingkungan tetapi juga ekonomi. Maggot mampu mendegradasi sampah sisa makanan dengan sangat cepat sebelum sampah tersebut membusuk dan menimbulkan bau di lingkungan sekitar,” ujar Ainul Yaqin.
Ia mengaku telah menerapkan sistem tersebut secara mandiri di rumah maupun di lingkungan sekolah yang dikelolanya.
“Hal ini sudah saya praktikan di rumah dengan membudidayakan maggot. Terlebih saya juga memiliki sekolah TK dengan ratusan siswa, sehingga sampah organik dari sisa makanan anak-anak yang ada bisa dikelola secara mandiri,” kata pemuda asal Manyar tersebut.
Baca juga: Keren! Pemkab Gresik Kini Punya Mesin ‘Penambang’ Sampah Berkapasitas 25 Ton/Jam
“Menariknya lagi, maggot yang sudah dewasa bisa dipanen untuk menjadi pakan ternak atau ikan yang tinggi protein, sementara sisa medianya berubah menjadi pupuk organik kasgot (bekas maggot) yang sangat subur bagi tanaman. Ini adalah siklus ekonomi sirkular yang nyata,” imbuhnya.
Senada dengan itu, Ricke Mayumi menilai budidaya maggot menjadi solusi konkret untuk menekan dampak buruk boros pangan. Menurutnya, pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga maupun sekolah efektif mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus menekan emisi gas metana.
“Dampak boros pangan ini sangat luas, mulai dari ekonomi yang merugikan petani hingga lingkungan akibat sampah organik yang meningkat,” jelas Ricke.
Ia menambahkan, DPRD akan fokus mengawal regulasi dan dukungan anggaran guna memperkuat aksi nyata masyarakat, termasuk pengembangan bank sampah organik dan inovasi pengolahan limbah pangan di sekolah.
Baca juga: Dari Dapur ke Aksi Hijau, KKN-T UNESA Kenalkan Ecoenzim kepada Warga Bangeran
“Mari kita dukung sinergi ini. Selain bijak mengonsumsi pangan dengan mengambil secukupnya, sisa yang ada harus kita olah kembali agar menjadi sesuatu yang bernilai secara ekonomi dan ekologi, seperti gerakan maggot tadi,” lanjutnya.
Di akhir kegiatan, kedua legislator mengajak seluruh elemen masyarakat Gresik untuk mulai bijak mengonsumsi pangan, mengambil makanan secukupnya, serta belajar mengolah sisa makanan yang tidak terhindarkan demi mewujudkan Kabupaten Gresik yang mandiri dan berkelanjutan dalam ketahanan pangan.
