INFOGRESIK – Cuaca buruk yang melanda perairan Gresik dalam sepekan terakhir memicu krisis energi di Pulau Bawean. Terhentinya arus pelayaran logistik berdampak langsung pada kelangkaan gas LPG dan bahan bakar minyak (BBM), sehingga harga melonjak tajam dan aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh.
Di Kecamatan Sangkapura, harga LPG subsidi ukuran 3 kilogram sempat menembus angka Rp55.000 per tabung sebelum akhirnya benar-benar habis di pasaran. Kondisi serupa juga terjadi pada LPG non-subsidi ukuran 12 kilogram.
“Dua hari yang lalu LPG 3 kilo sampai Rp55 ribu, sekarang sudah tidak ada sama sekali. Bahkan LPG 12 kilo juga kosong, kemarin harganya tembus Rp300 ribu,” ungkap Hefni, warga Desa Sidogedungbatu, Jumat (23/1/2025).
Kelangkaan energi juga dirasakan warga Kecamatan Tambak. Tidak tersedianya BBM jenis Pertalite dan Bio Solar membuat mobilitas masyarakat terganggu hingga melumpuhkan berbagai aktivitas publik.
Baca juga: Tak Lagi Bebani Pasien, Biaya Nakes Pendamping Rujukan Bawean–Gresik Kini Ditanggung Pemkab
Ketua PAC GP Ansor Tambak, Guntur, menyebut sekitar 40 persen aktivitas masyarakat saat ini terhenti akibat krisis energi dan terputusnya akses transportasi laut.
“Beberapa hari ini di Kecamatan Tambak hampir semua fasilitas lumpuh. Orang ke pasar sedikit, orang mau kerja terhambat, siswa ke sekolah juga banyak yang tidak masuk. Kalau dipresentasikan, sudah sekitar 40 persen pergerakan lumpuh gara-gara tidak ada bensin dan tidak adanya kapal,” bebernya.
Guntur menilai lambatnya langkah antisipasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik menjadi faktor utama berulangnya persoalan tahunan tersebut. Menurutnya, kondisi cuaca ekstrem seharusnya sudah diantisipasi sejak jauh hari.
“Ini gejala musiman, tapi Pemkab Gresik tidak pernah serius menangani. Kalau serius, bulan 9 atau 10 itu sudah mempersiapkan satu armada kapal besar untuk Pulau Bawean, supaya bisa menanggulangi kelangkaan sembako, bensin, dan LPG,” tegasnya.
Desakan serupa disampaikan pengusaha asal Bawean, H. Abdurrahman. Ia meminta pemerintah segera mengambil langkah darurat karena krisis energi berdampak langsung pada ketahanan pangan dan roda perekonomian masyarakat.
Baca juga: Diduga Alami Korsleting Listrik, Kapal Gili Iyang Gresik ke Pulau Bawean Terbakar di Tengah Laut
“Bawean itu sudah krisis pangan, terutama kalau bensin dan gas LPG itu tidak ada atau langka. Kalau bensin dan LPG tidak ada, maka pangan dan ekonomi itu tidak bisa berputar. Kuncinya di situ,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelangkaan LPG memiliki dampak psikologis yang lebih besar bagi masyarakat dibandingkan BBM. “Kalau BBM tidak ada, masih bisa dikendalikan. Tapi kalau LPG tidak ada, orang itu nangis, karena tidak bisa masak. LPG itu sudah seminggu atau 10 hari yang lalu langkanya,” pungkasnya.
