INFOGRESIK – Kebangkitan petani di Desa Tanggulrejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, mulai membuahkan hasil manis. Tergiur kenaikan harga gabah, sekitar 30 petani yang sebelumnya menggantungkan hidup dari usaha tambak kini beralih menggarap sawah melalui sistem terpadu mina padi.
Sistem mina padi tidak hanya mengembalikan semangat petani untuk bercocok tanam, tetapi juga memberikan keuntungan ganda melalui panen padi sekaligus budidaya ikan dan udang dalam satu lahan.
Kebahagiaan itu dirasakan langsung oleh salah seorang petani, Abdul Manaf, saat menggelar panen raya perdana. Menurutnya, hasil panen musim ini sangat menggembirakan, baik dari sisi produksi maupun harga jual.
“Harga gabah sekarang sekitar Rp8 ribu per kilogram. Kami juga sudah panen udang sekitar 250 kilogram dan ikan 500 kilogram, sementara hasil padi mencapai 8 hingga 10 ton per hektare,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Baca juga: Kian Modern, Petani Gresik Terima Puluhan Bantuan Alsintan dan Irigasi Perpompaan
Gairah para petani itu turut disaksikan Ketua DPRD Gresik, Syahrul Munir, yang ikut membaur di tengah sawah dan mengoperasikan mesin panen combine harvester. Menurutnya, kenaikan harga gabah menjadi pemicu utama bangkitnya optimisme petani.
“Naiknya harga gabah membuat masyarakat yang sebelumnya mengelola tambak kini mulai beralih menjadi petani. Tahun ini mereka mulai menikmati hasil panen melalui sistem mina padi,” katanya.
Syahrul menegaskan DPRD Gresik berkomitmen mendukung pengembangan mina padi untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Salah satu langkah yang akan dikaji ialah penataan sistem irigasi agar sawah tetap memperoleh pasokan air tawar dan tidak terdampak intrusi air laut.
“Kami akan mengkaji model irigasi yang paling sesuai agar lahan pertanian tetap mendapatkan pasokan air tawar dan bisa dimanfaatkan secara optimal oleh petani,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tanggulrejo, Karim Aly, mengungkapkan minat masyarakat untuk kembali bertani terus meningkat. Dari total sekitar 50 hektare lahan persawahan yang ada, semakin banyak warga memilih menanam padi karena dinilai lebih menguntungkan sekaligus mampu memperbaiki kualitas lahan.
“Dalam satu hektare lahan, hasil panen bisa mencapai sekitar 8 hingga 10 ton. Sistem ini juga membantu memperbaiki unsur hara tanah sehingga kualitas lahan semakin baik,” jelasnya.
Untuk menjaga keberlanjutan usaha tani, Karim berharap Pemerintah Kabupaten Gresik memberikan dukungan berupa pembangunan infrastruktur irigasi permanen, khususnya pasokan air dari Kali Corong, serta bantuan alat dan mesin pertanian.
“Kami berharap ada dukungan dari Pemkab Gresik berupa normalisasi saluran irigasi, bantuan alat dan mesin pertanian seperti traktor. Apalagi antusiasme masyarakat untuk bertani sangat tinggi,” tutupnya.
