INFOGRESIK – Banyaknya perusahaan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik yang berasal dari Tiongkok menjadi peluang besar bagi masyarakat sekitar.
Untuk menangkap peluang tersebut, Anggota DPRD Gresik, Muhammad Ainul Yaqin, memfasilitasi sejumlah pemuda di Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, mengikuti kursus bahasa Mandarin.
Total ada 10 pemuda yang mengikuti kursus selama 1,5 bulan dengan pertemuan dua kali seminggu, masing-masing berdurasi dua jam.
Kegiatan ini bekerja sama dengan Lembaga Shanghai Zhonghua Gresik yang telah terbukti kompeten dalam mencetak peserta, dengan bukti sertifikasi resmi yang diberikan setelah kursus selesai.
Ainul Yaqin menjelaskan, program ini diinisiasi untuk membuka peluang kerja bagi pemuda sekitar KEK Gresik. Pasalnya, sebagian besar perusahaan di kawasan industri tersebut berasal dari Tiongkok.
Baca juga: Tinjau Revitalisasi Pasar Sidayu, Komisi II DPRD Gresik Sebut Pembangunan Bakal Selesai Desember
“Semoga kursus ini bermanfaat, sehingga para pemuda bisa menambah skill bahasa Mandarin dan nantinya bekerja di KEK Gresik,” kata Ainul, Sabtu (27/9/2025).
Melalui kursus ini, politisi NasDem tersebut berharap para peserta nantinya bisa bekerja menjadi penerjemah bahasa Mandarin yang peluangnya sangat besar.
“Kita tahu, mereka butuh pekerja yang memiliki skill. Ini merupakan salah satu strategi penyiapan sumber daya manusia yang kompeten,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Desa Manyarejo, Siswanto, mengatakan dirinya bersama perangkat desa awalnya memiliki ide untuk meningkatkan keterampilan pemuda melalui bahasa Mandarin.
Menurutnya, penguasaan bahasa asing menjadi kunci agar pemuda lokal mampu bersaing di kawasan industri.
“Alhamdulillah Pak Ainul Yaqin mendukung dalam pembiayaan. Ini langkah antisipasi agar pemuda Manyarejo siap bekerja di JIIPE maupun perusahaan dari Tiongkok,” ucap Siswanto.
Baca juga: Sejak Berdiri, Nilai Investasi yang Ditanam di Kawasan JIIPE Tercatat Capai Rp 106 Triliun
Ia menambahkan, selain kursus Mandarin, Pemdes Manyarejo juga mendorong pengembangan bahasa Inggris.
“Kalau bahasa Inggris yang ikut sekitar 15–20 peserta. Belajarnya dua kali dalam seminggu,” jelasnya.
Salah satu peserta, Muhammad Rafi Putra Ardiansyah, mengaku baru pertama kali belajar bahasa Mandarin. Meski awalnya sulit, ia optimistis bisa menguasai dasar percakapan.
“Kalau bahasa Inggris dan Mandarin beda pengucapan, jadi harus belajar lebih rajin. Tapi saya yakin bisa,” tuturnya.
