INFOGRESIK – Sistem irigasi yang baik menjadi salah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas pertanian sekaligus mendukung terwujudnya ketahanan pangan di daerah.
Hal itu disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Gresik Ricke Mayumi saat kegiatan Penguatan Peran Kelompok Kerja Wilayah Selatan Komisi Irigasi untuk Mendukung Program Ketahanan Pangan di Kabupaten Gresik yang digelar Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Kamis (30/10/2025).
Ricke menjelaskan, Kabupaten Gresik memiliki potensi besar di sektor pertanian, terutama di wilayah selatan seperti Kecamatan Duduksampeyan, Cerme, Benjeng, Balongpanggang, Menganti, Kedamean, Driyorejo, Kebomas, dan Wringinanom.
“Fokus RPJMD Gresik tahun 2025–2029 adalah penguatan ketahanan pangan berbasis kawasan pertanian produktif. Ini yang kita kawal,” ujarnya.
Baca juga: Cegah Penyalahgunaan Narkotika, Dewan Ajak Siswa di Gresik Aktif Berkegiatan dan Tidak Mager
Menurutnya, prioritas utama meliputi optimalisasi jaringan irigasi dan embung desa, peningkatan produktivitas lahan sawah, pengembangan pertanian modern (smart farming), serta perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B).
“Kondisinya saat ini banyak terjadi sedimentasi saluran, irigasi tersier rusak, dan belum meratanya distribusi air,” jelas Anggota Komisi II DPRD Gresik tersebut.
Politisi Partai Gerindra ini menambahkan, luas sawah irigasi teknis di Gresik mencapai sekitar 10.500 hektare (ha) yang sebagian besar tersebar di Kecamatan Benjeng, Cerme, dan Balongpanggang.
“Kami mendorong agar Komisi Irigasi Gresik menyelaraskan kebijakan pengelolaan air dengan kebutuhan petani. Targetnya tentu ketahanan pangan, sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo,” tegasnya.
“Pemetaan irigasi sangat penting karena berkaitan dengan anggaran. Harus detail,” tambahnya.
Senada, Anggota DPRD Gresik Muhammad Ainul Yaqin menyampaikan bahwa banyak petani dan petambak di Gresik mengeluhkan ketersediaan air.
Baca juga: Kerjasama dengan BBWS, Pemkab Gresik Bakal Bangun Jaringan Irigasi di Kecamatan Panceng dan Dukun
“Beberapa wilayah biasanya mengandalkan air tadah hujan, sehingga waduk atau embung harus rutin dikeruk,” ujarnya.
Politisi muda Partai Nasdem itu menilai, meski Gresik dikenal sebagai Kota Industri, mempertahankan area pertanian produktif tetap penting.
“Ketidakteraturan distribusi air dan konversi lahan berpotensi mengurangi luas tanam padi maupun komoditas lokal,” terangnya.
Ia berharap penguatan peran Kelompok Kerja Wilayah Selatan di bawah Komisi Irigasi menjadi langkah strategis untuk menstabilkan ketahanan pangan di Kabupaten Gresik.
“Serangkaian quick wins yang diikuti rencana pembiayaan terintegrasi (APBD, dana desa, P3-TGAI, CSR) akan menjadi dasar bukti bagi intervensi berskala lebih besar pada tahun berikutnya,” tutupnya.
