INFOGRESIK – Warga Desa Randuagung, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, gempar usai mendengar teriakan Muhammad Dwi Cahyo, 35 tahun, dari salah satu kamar kos di Jl. Dr Wahidin Sudirohusodo Gang 36 Blok G4.
Setelah didekati, penyebab Dwi Cahyo berteriak ternyata karena melihat Firda Mega Kharisma, 25 tahun, asal Desa Bedahan, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, yang tak lain pacarnya, tewas tergantung menggunakan seutas tali jemuran di kamar mandi, pada Kamis (26/6/2025) sekitar pukul 7.00 WIB.
Kapolsek Kebomas, Kompol Gatot Setyo Budi, menyampaikan bahwa sehari sebelum ditemukan tewas, Rabu (25/6) Firda bertemu dengan saksi, Dwi Cahyo, di kamar kos-kosannya. Mereka berbincang-bincang dari pukul 07.00-19.00 WIB.
Dwi Cahyo yang berstatus duda anak dua ini kemudian pamitan pulang, karena mau membelikan popok untuk anaknya.
“Namun dicegah oleh korban untuk tinggal sebentar. Walaupun dicegah, saksi tetap pulang karena akan membelikan kebutuhan anaknya, dan berjanji besok pagi akan datang lagi ke tempat kos,” ujar Gatot kepada Infogresik.
Setelah itu, saksi yang sudah berpacaran hampir tiga tahun ini pulang dan mengunci pintu kamar kos dari luar, dikarenakan saksi dan korban sama-sama memiliki kunci.
Sesuai janji, Cahyo kembali ke kos-kosan Firda keesokan harinya sekitar jam 07.00 WIB. Saksi kemudian mengetuk dan memanggil korban, tetapi tidak ada jawaban.
Karena pintu terkunci dari dalam, pria asal Desa Sekarkurung, Kec.Kebomas, Kab. Gresik, tersebut lantas menggunakan kunci yang dimilikinya untuk membuka pintu kamar kos. Betapa terkejutnya, saksi kemudian melihat Firda tewas tergantung menggunakan seutas tali jemuran di kamar mandi.
“Saksi Cahyo langsung berteriak dan keluar meminta tolong kepada saksi penjaga kos bernama Hariyono, dan diteruskan ke pihak kepolisian,” terang Kapolsek Kebomas.
Usai mendapat laporan, anggota Polsek Kebomas langsung menuju ke lokasi kejadian. Korban Firda kemudian dibawa ke RSUD Ibnu Sina Gresik untuk dilakukan visum et repurtum guna kepentingan penyelidikan dan penyidikan.
“Hasil pemeriksaan luar pada tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Besar dugaan korban gantung diri karena masalah beban ekonomi,” kata Gatot.
Dari keterangan yang dikumpulkan, hubungan saksi dengan korban yang introvert ada sedikit masalah, karena Cahyo baru terkena PHK. Korban meminta pacarnya segera cari kerja lagi.
Sedangkan korban sendiri sering mengeluh sebagai seorang sarjana, bekerja tapi gajinya rendah, dan ingin cari pekerjaan lain. Akan tetapi keadaan tersebut tidak pernah diceritakan korban ke keluarganya. Termasuk hubungan korban dengan Cahyo.
“Pihak keluarga sudah ikhlas atas kematian anaknya dan membuat surat pernyataan untuk tidak dilakukan otopsi,” tegas Gatot.
