INFOGRESIK – Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan, mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat riset pangan sebagai kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional. Hal tersebut ditegaskannya saat menjadi keynote speaker dalam seminar nasional bertajuk “Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas” di Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Gresik, Rabu (28/1/2026).
Pria yang akrab disapa Zulhas ini menekankan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam mendukung kemajuan bangsa, terutama melalui penguatan riset yang menjadi kunci dalam menjawab tantangan sektor pangan.
“Ke depan, riset pangan harus diperkuat. Para akademisi harus bisa berkontribusi nyata terhadap kemajuan pangan Indonesia,” ujarnya.
Zulhas juga menyoroti tingginya biaya produksi gula di Indonesia yang masih kalah bersaing dibandingkan negara lain. Ia membandingkan biaya produksi satu kilogram gula di Indonesia yang mencapai Rp12 ribu, sementara di negara lain hanya berkisar Rp3–4 ribu.
Baca juga: Pastikan Harga Pangan Stabil Jelang Ramadan, Relawan Zulhas Siap Kawal Ketahanan Pangan di Gresik
“Ini tantangan kita. Salah satu solusinya melalui inovasi dan riset, terutama dari kampus. Pemerintah butuh riset-riset berbasis pangan, sehingga ada terobosan dan pangan kita swasembada,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Zulhas secara khusus memberikan apresiasi terhadap hasil riset Prof. Setyo Budi, akademisi Unmuh Gresik, yang berhasil mengembangkan tujuh klon varietas unggul tanaman tebu melalui metode persilangan model Hawai.
“Ini temuan yang sangat bagus dan harus didukung. Nanti BRIN harus ikut mendukung, nanti akan saya kawal,” tegas Zulhas saat menanggapi temuan klon tebu berkode SB.01 hingga SB.20 tersebut.
Rektor Unmuh Gresik, Prof. Khoirul Anwar, menyampaikan bahwa pengembangan varietas unggul tersebut merupakan hasil kerja keras selama puluhan tahun. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam penelitian tebu bagi ketahanan pangan nasional.
Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Menko Zulhas Gandeng Mahasiswa BINUS Kembangkan Inovasi Tambak di Gresik
“Penelitinya (Prof. Budi) sudah berusia 70 tahun. Kalau saya bilang beliau purnawirawan, tapi semangatnya luar biasa. Kami perpanjang masa pengabdiannya karena sangat produktif. Riset soal tebu ini sangat penting. Untuk menghasilkan tujuh klon unggul seperti ini butuh waktu puluhan tahun,” ungkap Prof. Khoirul.
Ia menambahkan bahwa dukungan langsung dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan menjadi dorongan besar bagi kampus untuk memastikan riset yang dilakukan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
“Pak Menteri siap membantu jika ada kendala dan akan memfasilitasi. Ini tentu menjadi dorongan besar bagi kami agar riset ini benar-benar memberi manfaat, khususnya untuk ketahanan pangan tebu,” tutupnya.
