INFOGRESIK – Di tengah hiruk pikuk industri Kabupaten Gresik, terdapat sebidang lahan di Kelurahan Gending, Kecamatan Kebomas, yang dipenuhi tanaman jeruk dan menarik perhatian. Bukan hanya satu atau dua pohon, tetapi ratusan pohon jeruk tumbuh subur di sana.
Menariknya, jeruk yang ditanam bukanlah jenis sembarangan. Di Kebun Jeruk Pak Manyung ini terdapat jeruk Jepang jenis Dekopon tanpa biji berukuran besar, yang menjadi yang pertama di Kabupaten Gresik.
Hal tersebut disampaikan oleh pemilik kebun, Wito, saat menerima kunjungan istri Wakil Bupati Gresik yang juga Ketua GOW, dr. Shinta Puspita Sari, dan Anggota Komisi II DPRD Gresik, Ricke Mayumi, pada Rabu (9/7/2025).
Sambil menyusuri rimbunnya pohon jeruk, pria berusia 60 tahun itu bercerita bahwa sebelum ditanami jeruk Jepang, lahan seluas 700 meter persegi ini hanyalah barongan berisi pohon bambu tak terawat milik orang lain. Lahan tersebut kemudian ia kelola dengan sistem bagi hasil.
“Dulu, sekitar tahun 2021, saya jalan-jalan ke Bandung, Jawa Barat, dan melihat kebun jeruk Jepang. Akhirnya saya membeli bibitnya sebanyak 25 pohon,” ungkap Wito.
Pria yang sehari-hari berjualan makanan olahan ikan laut, seperti manyung, ini mengatakan bahwa di tempat asalnya jeruk Jepang biasanya hanya tumbuh di daerah bersuhu sejuk. Ada tantangan tersendiri saat mengembangkannya di lahan kapur. Salah satunya dengan memanfaatkan pupuk organik dari limbah perut sapi.
“Alhamdulillah, setelah ditanam selama tiga tahun, jeruk Jepang sudah berbuah. Satu pohon bisa menghasilkan 23 buah, dengan rata-rata berat 500 gram,” ujarnya.
Dengan penuh keramahan, pria asal Kelurahan Gending ini menjelaskan bahwa kini sudah ada 100 pohon jeruk Jepang serta jeruk siam Banyuwangi. Selain itu, terdapat pula puluhan tanaman stroberi.
“Setiap pengunjung bisa memetik buah sendiri. Saya berharap kebun ini dapat menjadi tempat edukasi bagi masyarakat,” kata Wito.

Karena masih dikelola secara tradisional, setiap orang yang ingin berkunjung ke Kebun Jeruk Pak Manyung harus melakukan reservasi terlebih dahulu.
Adapun tiket masuk dipatok Rp10.000 per orang. Untuk jeruk Jepang dijual seharga Rp45.000 per kilogram, sedangkan jeruk siam Banyuwangi Rp15.000 per kilogram.
Anggota Komisi II DPRD Gresik, Ricke Mayumi, mengaku salut dengan perjuangan Wito dalam membudidayakan jeruk Jepang Dekopon. “Saya tahu tempat ini dari dr. Shinta. Ternyata ada kebun jeruk yang bagus di tengah kota,” tuturnya.
Lebih lanjut, politisi muda Partai Gerindra itu menyampaikan akan berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait keluhan petani untuk mendapatkan limbah perut sapi di rumah potong hewan (RPH).
“Tadi Pak Wito siap membeli limbah perut sapi untuk dijadikan pupuk organik, tetapi terkendala di RPH. Nanti saya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Gresik agar limbah tersebut dapat dimanfaatkan sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah,” tegasnya.
Tak sekadar berkunjung, Ricke juga mencoba sensasi rasa jeruk Jepang yang dipetik langsung dari pohon. “Rasanya manis, kecut, dan segar,” ujar pengusaha F&B ini.
Senada, Ketua GOW Gresik, dr. Shinta Puspita Sari, mengaku sudah dua kali berkunjung ke Kebun Jeruk Pak Manyung. Meski begitu, ia tidak merasa bosan.
“Kalau di sini rasanya ingin memetik buah terus,” kata dr. Shinta sembari tersenyum.
Menurut dr. Shinta, Pemkab Gresik terus berupaya mendukung pengembangan pertanian, salah satunya dengan mengajak para pejabat berkunjung sekaligus mempromosikan kebun tersebut kepada masyarakat.
“Ini saya juga mengajak istri-istri Forkopimda Gresik ke sini supaya lebih ramai dan dikenal banyak orang,” jelasnya.
