INFOGRESIK – Dua seniman Gresik, Anhar dan Suef, menggelar pameran lukisan Damar Kurung bertema ‘The Jumping City’ di Galeri Loteng Kemasan, sebuah tempat bekas sarang burung walet yang berada di lantai atas Sualoka.Hub Jl. Nyai Ageng Arem-Arem Gg. II No. 20, Kampung Kemasan Gresik.
Pameran yang dilaksanakan selama sebulan penuh, pada tanggal 22 Februari – 22 Maret 2025 ini, digelar dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan.
Sebanyak 20 lukisan Damar Kurung ditampilkan pada pameran dengan kurator Hidayatun Nikmah dari Yayasan Gang Sebelah tersebut.
Hidayatun Nikmah menyampaikan bahwa, Damar Kurung bukan hanya sebagai lentera dengan lukisan dekoratif semata, tetapi merupakan media untuk menggambarkan dinamika kehidupan kota dan manusia yang jumpalitan di dalamnya.
“Setiap gambar pada Damar Kurung yang dibuat oleh Anhar dan Suef mengandung cerita dan pesan yang mengajak pengunjung untuk melihat Kota Gresik dari berbagai sudut pandang yang berbeda,” kata Nikmah, Minggu (23/2/2025).
Dia menjelaskan, Damar Kurung atau lentera khas Gresik ini biasanya dipasang menjelang bulan Ramadan sebagai lentera yang menjadi penanda menuju ke jalan-jalan pemakaman. Lentera ini yang nantinya menjadi ”penerang” jalan bagi orang-orang yang mulai melakukan ritual padusan atau ziarah ke pemakaman sanak keluarga sebagai pembuka babak Ramadan.
Selanjutnya, secara kultural damar kurung juga dipasang di depan rumah, maupun tempat penting lain, misalnya di jalan kampung yang dilalui warga. Di sekujur permukaan lentera itu cerita-cerita masyarakat Gresik seperti tradisi pasar bandeng, perayaan Idul Fitri, suasana warung kopi hingga keramaian alun-alun dinarasikan melalui lukisan. Damar Kurung menjadi semacam kanvas tradisional berisi ingatan-ingatan warga untuk dituturkan.
“Tajuk The Jumping City dipilih karena karya-karya Anhar dan Suef banyak menyoal kehidupan kota yang dinamis—yang progresif sekaligus regresif dalam satuan waktu yang sama dalam perkembangan kota,” terang Nikmah.
Sementara, seniman Anhar berharap adanya pameran ini bisa membuat masyarakat Gresik terus melestarikan lentera berbentuk kubus tersebut.
”Semoga para pengunjung pameran ini, bisa mendapatkan sesuatu dari karya yang kami sampaikan. Sekaligus sebagai ajakan untuk melestarikan budaya, dalam hal ini seni Damar Kurung,” ujar Anhar.
”Harapan kami tidak muluk-muluk, semoga karya kami layak untuk dinikmati sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat bahwa di Gresik masih ada seniman yang terus menjaga dan mengembangkan Damar Kurung sebagai bagian dari warisan budaya,” tambah seniman Suef.
Terdapat delapan program pameran The Jumping City yang bisa diakses publik, seperti Ziarah Damar Kurung, Merangkai Damar Kurung, Workshop, Artist Talk, Screening Film, Curator Talk, Teater, dan Lomba Mewarnai.
Pameran dibuka setiap hari, pada pukul 16.00 – 22.00 WIB dan berlangsung selama satu bulan.
