INFOGRESIK – Fraksi PKB DPRD Kabupaten Gresik mengambil langkah proaktif dalam merespons darurat sampah plastik. Bertepatan dengan momentum Hari Bumi, fraksi tersebut menggelar dialog publik pada Rabu (22/4/2026) guna mendorong sinergi lintas sektor dalam mengatasi persoalan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.
Ketua DPRD Gresik sekaligus politisi PKB, Muhammad Syahrul Munir, menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu teknis, melainkan juga menyangkut kebijakan dan kesadaran kolektif. Ia menilai, peningkatan volume sampah di Gresik menjadi tantangan serius yang harus diimbangi dengan kapasitas pengelolaan yang memadai.
“Kesadaran mengelola sampah, kesadaran mengurangi sampah, hingga kesadaran menyusun anggaran penanganan sampah menjadi hal penting,” ujar Syahrul Munir dalam forum tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya program pengelolaan sampah yang dimulai dari tingkat paling dasar, yakni rumah tangga. Menurutnya, pemilahan sampah sejak dari sumber dapat mengubah beban menjadi peluang ekonomi, seperti pengolahan sampah organik menjadi pakan ternak maupun pupuk tanaman.
Baca juga: Keren! Pemkab Gresik Kini Punya Mesin ‘Penambang’ Sampah Berkapasitas 25 Ton/Jam
Selain itu, Syahrul turut menyoroti pentingnya indikator keberhasilan pemerintah daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui instrumen yang terukur.
“Nah, salah satu indikator pengelolaan sampah yang dilakukan daerah bisa dilihat dari aspek retribusi pengelolaan sampah, yang mencerminkan keseriusan dalam upaya mengelola sampah,” imbuhnya.
Sinergi dengan DLH dan Aktivis Lingkungan
Upaya Fraksi PKB ini mendapat respons positif dari pihak eksekutif. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, Sri Subaidah, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 317 ritel modern di Gresik yang telah berkomitmen untuk tidak lagi menggunakan kantong plastik sekali pakai.
“Masyarakat mulai sadar, kebijakan ini sangat mengurangi sampah plastik,” kata Sri.
Ia menambahkan, pihaknya terus berupaya menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan kelestarian lingkungan melalui penerapan konsep ekonomi hijau.
Baca juga: Mengenal Sri Subaidah, “Kartini Hijau” di Tengah Ancaman Triple Planetary Crisis
Sementara itu, pegiat lingkungan dari Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi, mengingatkan bahaya mikroplastik yang kini telah masuk ke dalam rantai makanan manusia dan berpotensi memengaruhi fungsi otak.
“Hanya sekitar 9 persen plastik yang berhasil didaur ulang. Sisanya mencemari lingkungan,” ucapnya.
Melalui dialog ini, Fraksi PKB DPRD Gresik berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan lingkungan hidup serta memastikan ketersediaan anggaran yang memadai, agar permasalahan sampah di Kota Pudak dapat ditangani secara berkelanjutan.
