INFOGRESIK – Pemerintah Kabupaten Gresik menaikkan level kewaspadaan menghadapi musim kemarau tahun 2026 yang diprediksi datang lebih awal pada akhir April. Berdasarkan data pemetaan, sebanyak 6 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan di fase awal, dan diperkirakan meluas hingga 12 kecamatan pada puncak kemarau Juli–September mendatang.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menginstruksikan seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melakukan langkah antisipasi terukur dan tidak hanya menunggu laporan krisis dari masyarakat.
“Jangan tunggu masyarakat kesulitan air baru kita bergerak. Semua harus sudah siap dari sekarang. Kecamatan harus tahu titik rawan, desa harus tahu kondisinya. Tidak boleh ada yang terlambat,” tegas Bupati Yani.
Baca juga: Bupati Gresik Terapkan WFH ASN Tiap Jumat, Targetkan Penghematan Operasional 50 Persen
Sebagai langkah konkret, Pemkab Gresik melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gresik telah menyiagakan skema intervensi berupa dropping air bersih dengan mengerahkan 5 unit truk tangki, puluhan tandon, serta ratusan jerigen. Mengingat adanya tantangan keterbatasan armada dibandingkan luas wilayah terdampak, Bupati menekankan pentingnya efisiensi kerja.
“Dengan keterbatasan ini, kita tidak bisa kerja biasa. Harus berbasis data, harus tepat sasaran, dan harus cepat,” ujar Bupati Gresik.
Ia juga mendorong adanya inovasi di luar sekadar pemberian bantuan air tangki, seperti optimalisasi sumber air alternatif dan kolaborasi dengan sektor swasta.
“Kita harus berani keluar dari pola lama. Sumber air yang ada harus dioptimalkan, termasuk kerja sama dengan pihak swasta. Ini soal strategi, bukan sekadar bantuan,” imbuhnya.
Selain kesiapan birokrasi, masyarakat juga diimbau untuk membangun kemandirian cadangan air di tingkat rumah tangga.
“Minimal setiap rumah punya jerigen atau tandon. Kita harus membangun kesiapan dari bawah, bukan hanya mengandalkan pemerintah,” tambah Yani.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Gresik, Sukardi, menyatakan bahwa pihaknya telah mengantongi peta wilayah rawan sebagai acuan distribusi air bersih secara bertahap. Namun, ia memberikan catatan mengenai dukungan operasional selama masa kemarau panjang ini.
“Kami sudah siapkan distribusi air bersih secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan. Yang menjadi perhatian adalah dukungan operasional, khususnya BBM, karena distribusi ini akan berlangsung rutin selama musim kemarau,” jelas Sukardi.
Saat ini, Pemkab Gresik mulai mengalihkan fokus dari sekadar penanganan darurat menuju pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, guna memastikan ketersediaan air baik untuk konsumsi warga maupun kebutuhan sektor pertanian di masa depan.
