INFOGRESIK – Bagi sebagian besar anak berusia 11 tahun, waktu setelah salat Magrib dan Subuh mungkin dihabiskan untuk bersantai atau bersiap tidur. Namun, tidak bagi Noor Annisa Qurrota’ Aini. Di waktu-waktu tenang itulah lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalir dari bibirnya, mengikis kantuk sekaligus menjaga hafalan demi hafalan yang telah tertanam di ingatannya.
Kebiasaan yang dijalani secara konsisten sejak usia tujuh tahun itu kini berbuah manis. Siswi kelas VI MINU Trate Putri Gresik tersebut berhasil meraih Juara II cabang Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) pada ajang bergengsi Sunan Drajad International Fest.
Prestasi itu diraih setelah Annisa melewati persaingan yang sangat ketat dengan sekitar 4.800 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga negara-negara Asia Tenggara.
Dari ribuan peserta, ia berhasil lolos seleksi hingga masuk ke jajaran 54 finalis terbaik yang berhak tampil pada babak grand final.
Baca juga: Perkuatan Bahasa Daerah, MINU Trate Putri Gresik Launching Jumat Krama
Saat berdiri di hadapan dewan juri internasional, Annisa mengaku sempat diliputi rasa gugup. Namun, ia berusaha mengendalikan diri hingga mampu tampil maksimal.
“Alhamdulillah senang bisa mendapat juara. Awalnya sempat grogi, tapi saya berusaha tetap tenang,” tutur Annisa, Sabtu (18/7/2026).
Ketenangan Annisa di atas panggung merupakan buah dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin, baik di rumah maupun di sekolah. Bakat di bidang keagamaan telah terlihat sejak duduk di bangku taman kanak-kanak melalui berbagai perlombaan. Namun, menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an tentu membutuhkan komitmen yang jauh lebih besar daripada sekadar bakat.
Di balik keberhasilan tersebut, ada peran besar sang ibu, Mafulah, yang setia mendampingi setiap proses murojaah atau mengulang hafalan. Menurutnya, konsistensi menjadi kunci utama keberhasilan putrinya.
“Setiap selesai Magrib dan Subuh kami murojaah minimal satu juz agar hafalannya tetap terjaga,” ungkap Mafulah.
Baca juga: Pasca MTQ ke-32, Kabupaten Gresik Bidik Prestasi di Tingkat Provinsi Jawa Timur
Rutinitas sederhana setiap Magrib dan Subuh itulah yang menjadi fondasi kuat dalam menjaga hafalan Annisa.
Pembiasaan di rumah kemudian mendapat penguatan saat Annisa menempuh pendidikan di Kelas Tahfidz MINU Trate Putri Gresik. Di sekolah, kemampuan hafalannya terus diasah melalui alokasi pembelajaran tahfidz selama delapan jam setiap pekan.
“Kemampuannya semakin terasah ketika pembiasaan ngaji di sekolah,” tambah Mafulah.
Kepala MINU Trate Putri Gresik, Ainur Rahmah, mengatakan sekolah memang membangun atmosfer religius melalui pembiasaan salat Dhuha, pembacaan Asmaul Husna, hingga murojaah bersama. Sekolah juga menetapkan target hafalan minimal tiga juz bagi siswa kelas tahfidz. Namun, Annisa berhasil melampaui target tersebut dengan menuntaskan hafalan 30 juz.
“Semoga prestasi ini menjadi penyemangat bagi teman-temannya untuk terus menjaga hafalan Al-Qur’an dan berusaha meraih prestasi yang lebih baik,” ujar Rahmah.
Baca juga: Siswi Penghafal Quran Harumkan Nama Gresik di Tingkat Nasional
Keberhasilan Annisa menjadi bukti bahwa prestasi besar di panggung internasional tidak diraih secara instan. Capaian itu dibangun sedikit demi sedikit, ayat demi ayat, melalui kedisiplinan yang dijaga setiap hari sejak waktu Magrib hingga menjelang Subuh.
Senada, Ketua Yayasan Perguruan Pendidikan Nahdlatul Ulama Trate Gresik, Elvi Wahyudi, berharap prestasi Annisa mampu menginspirasi seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan yayasan.
“Prestasi yang telah diraih hendaknya menjadi pemicu untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat karakter peserta didik, serta melahirkan lulusan yang membanggakan bagi orang tua, masyarakat, dan Nahdlatul Ulama,” ujar Yudi.
