INFOGRESIK – Cangkul, traktor, dan lumpur kini tidak lagi menjadi satu-satunya gambaran dunia pertanian. Di tangan 261 siswa dari tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pertanian di Jawa Timur, sawah dan pekarangan sekolah bertransformasi menjadi laboratorium pertanian berbasis teknologi.
Melalui program School Lab Farming yang diinisiasi PT Petrokimia Gresik, generasi muda dari kalangan pelajar membuktikan bahwa masa depan ketahanan pangan nasional juga ditentukan oleh cara pandang mereka terhadap dunia agribisnis.
Program yang digulirkan sebagai bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berkerangka Creating Shared Value (CSV) tersebut lahir dari kompetisi HARVESTION 2025.
Petrokimia Gresik melihat adanya paradoks, yakni minat generasi muda terhadap sektor pertanian sebenarnya cukup besar. Namun, hal tersebut kerap terbentur keterbatasan sarana praktik, kesenjangan antara teori di kelas dan kebutuhan industri, serta pandangan bahwa bertani merupakan pekerjaan kuno.
Untuk menjembatani hal tersebut, lahan tidur atau aset sekolah dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi teaching factory yang produktif.
Efektivitas metode tersebut terlihat dari hasil produksi siswa. Di SMK Negeri 1 Kademangan, Blitar, misalnya, lahan seluas 1.000 meter persegi yang dikelola para siswa berhasil menghasilkan 800 kilogram bawang merah kering.
Hasil tersebut meningkat lebih dari lima kali lipat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang hanya mencapai 150 kilogram.
Tidak hanya bawang merah, greenhouse di sekolah tersebut juga menghasilkan buah melon dengan tingkat kemanisan mencapai 15 °Brix.
Capaian serupa turut dicatatkan SMK Negeri 8 Jember dan SMK Muhammadiyah 5 Gresik. Para siswa berhasil membudidayakan varietas melon dengan bobot 1,2 hingga 2 kilogram dan kualitas rasa yang baik.
Komoditas pendukung seperti buncis dan kembang kol juga dimasukkan dalam rotasi tanam. Hal ini memperluas pengalaman siswa dalam mengelola berbagai komoditas sekaligus memahami potensi bisnis pertanian.
Transformasi melalui School Lab Farming tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari pola pikir siswa. Mereka dibiasakan bekerja layaknya praktisi pertanian profesional, mulai dari mencatat perkembangan tanaman, mengukur kondisi media tanam, menghitung dosis pemupukan, hingga menganalisis data produksi.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menegaskan bahwa regenerasi petani menjadi salah satu kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian nasional. Menurutnya, pendekatan yang menyasar karakter anak muda dengan memanfaatkan teknologi, data, dan orientasi bisnis dapat mengubah pandangan terhadap profesi petani.
“Melalui School Lab Farming, kami ingin menunjukkan kepada generasi muda bahwa pertanian saat ini sudah berkembang jauh. Dengan dukungan teknologi smart farming dan pengelolaan lahan sekolah sebagai teaching factory yang produktif, siswa tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga memahami bagaimana pertanian dapat dikelola secara modern dan memiliki prospek usaha yang menjanjikan,” ungkap Daconi di Gresik, Jawa Timur.
Daconi menambahkan, keterlibatan aktif siswa dalam seluruh siklus kegiatan, mulai dari perencanaan, perawatan, pencatatan data, hingga analisis nilai ekonomi panen, mampu memberikan perspektif baru bagi generasi Z.
“Ketika siswa melihat sendiri bahwa lahan yang mereka kelola mampu menghasilkan produk berkualitas dan memiliki nilai jual, mereka mendapatkan perspektif baru tentang pertanian. Bukan hanya sebagai aktivitas budidaya, tetapi sebagai bidang usaha yang membutuhkan teknologi, kemampuan analisis, dan pengelolaan bisnis,” tuturnya.
Pendekatan tersebut disambut positif pihak sekolah. Kepala SMK Negeri 1 Kademangan, Hadi Sucipto, mengakui program tersebut mampu mengurangi kejenuhan dalam metode pembelajaran konvensional.
Baca juga: Merawat Pesisir yang Terancam, Petrokimia Gresik Hadirkan ‘Benteng Hijau’ Penjaga Pesisir di Mengare
Menurutnya, siswa kini memiliki ruang untuk mempraktikkan teori yang selama ini dipelajari di dalam kelas.
“Kami sangat mengapresiasi program ini karena siswa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mempraktikkan langsung pertanian modern. Harapannya, pengalaman ini dapat menumbuhkan semakin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan sektor pertanian sekaligus turut mendukung terwujudnya pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional,” tutup Hadi.
Melalui School Lab Farming, Petrokimia Gresik tidak hanya mendorong peningkatan keterampilan siswa dalam budidaya pertanian, tetapi juga memperkenalkan pertanian sebagai sektor yang dapat dikembangkan dengan teknologi, data, dan pendekatan bisnis.
