INFOGRESIK — Pemerintah Kabupaten Gresik memberikan apresiasi terhadap komitmen Pondok Pesantren Qomaruddin di Kecamatan Bungah dalam menjaga warisan literasi Islam.
Wakil Bupati Gresik dr. Asluchul Alif menyerahkan langsung penghargaan dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) kepada pihak pesantren atas keberhasilannya merawat ratusan naskah kuno yang berusia hingga tiga abad.
Penyerahan penghargaan secara simbolis oleh Wabup Alif kepada Pengasuh Pondok Pesantren Qomaruddin, KH. Muhammad Alauddin, berlangsung bertepatan dengan peringatan Haul ke-128 KH. Solih Tsani, Kamis (5/11/2026).
Baca juga: Wujudkan Kemandirian Ekonomi, Ponpes Qomaruddin Bungah Buka Toserba dan Food Court
Wabup Gresik dr. Alif menegaskan, pelestarian manuskrip kuno merupakan langkah penting untuk menjaga kesinambungan keilmuan dan sejarah para ulama terdahulu.
“Harapannya, dari manuskrip yang usianya sudah lama ini, banyak catatan sejarah dan kitab peninggalan para kiai pendiri pondok yang bisa terus diajarkan dan dilestarikan,” ungkapnya.
Menurutnya, manuskrip keagamaan tersebut menyimpan khazanah ilmu pengetahuan yang berharga dan patut diwariskan kepada generasi muda.
“Sehingga ilmunya tetap bermanfaat hingga generasi mendatang. Pemkab Gresik sangat mengapresiasi langkah pihak ponpes,” ujarnya.
Ponpes Qomaruddin tercatat mengelola sekitar 500 eksemplar naskah kuno karya para kiai yang ditulis semasa mengajar, berdakwah, maupun menimba ilmu di Mekkah.
Pengasuh Ponpes Qomaruddin, KH. Muhammad Alauddin, atau yang akrab disapa Gus Ala, menjelaskan bahwa ratusan naskah tersebut dirawat secara telaten. Bahkan, sekitar 90 persen di antaranya telah berhasil didigitalisasi dan dicetak ulang sebagai referensi keilmuan fikih bagi mahasiswa.
Baca juga: Dua Ajang Sehari, Pemkab Gresik Boyong Enam Penghargaan Tingkat Jawa Timur
“Ini ada tulisan tangan beliau (KH. Solih Tsani, red.) sejak berdakwah di berbagai daerah dan saat belajar di Mekkah. Dulu, para kiai kalau mengaji menuliskan sendiri materi yang diajarkan. Tulisan-tulisan itu masih tersimpan rapi dan terus kami rawat,” jelas Gus Ala.
Gus Ala menambahkan, karya para ulama terdahulu kini juga dimanfaatkan kembali sebagai rujukan akademis.
“Beberapa tulisan tangan beliau kami cetak ulang untuk referensi keilmuan, terutama tentang fikih. Saat ini manuskrip tersebut juga dipelajari oleh mahasiswa,” ucapnya.
