INFOGRESIK — Ribuan warga memadati jalur kirab enam tumpeng raksasa dalam rangka memperingati Haul ke-61 Mbah Kiai Haji (KH) Mohammad Syafi’i dan para sesepuh Desa Pongangan, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Kamis (15/10/2026) sore.
Dalam tradisi tahunan tersebut, enam tumpeng utama diarak sejauh hampir satu kilometer dari kawasan perbatasan Desa Suci dan Desa Pongangan menuju Balai Desa Pongangan. Setiap tumpeng dihiasi sekitar 30 kilogram beras, sayuran, buah-buahan, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti mi instan, pakaian, perabotan rumah tangga, dan uang tunai. Warga dari sejumlah RW juga turut memeriahkan acara dengan membawa tumpeng tambahan berukuran lebih kecil.
Setibanya di Balai Desa Pongangan, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah itu, warga berebut mengambil isi tumpeng yang telah diarak.
Baca juga: Ratusan Jamaah Hadiri Puncak Haul Masyayikh Ponpes Zainal Abidin Bungah Gresik
Cicit kedua KH Mohammad Syafi’i, Ahmad Junaidi Mujaddid, menyampaikan bahwa pelaksanaan haul tahun ini berlangsung lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, haul kali ini begitu meriah dan cuaca cerah. Antusiasme warga juga makin tinggi. Ini yang membuat haul semakin istimewa dan meriah,” ujarnya.
Junaidi menjelaskan, tradisi kirab tumpeng tersebut telah dilaksanakan sejak 2009 sebagai bentuk penghormatan kepada KH Mohammad Syafi’i sekaligus upaya melestarikan warisan budaya masyarakat setempat.
“Kirab ini mulai ada tahun 2009. Ini untuk merawat tradisi, memberikan dampak bagi UMKM lokal, sekaligus menjadi pengingat terhadap tokoh yang berjasa dari Desa Pongangan,” katanya.
KH Mohammad Syafi’i dikenal sebagai ulama berpengaruh yang namanya diabadikan sebagai nama jalan dari kawasan Sukomulyo hingga Bunder. Semasa hidupnya, beliau dikenal dermawan dan aktif mewakafkan tanah untuk pembangunan tempat ibadah serta lembaga pendidikan.
Baca juga: Tumpeng Setinggi 1,5 Meter di Haul Sesepuh Desa Pongangan Jadi Rebutan warga
Sementara itu, Kepala Desa Pongangan, Aang Chunaifi, mengungkapkan bahwa pembuatan tumpeng dalam haul tahun ini melibatkan partisipasi aktif ibu-ibu PKK dan warga dari berbagai RW.
“Ini adalah Haul KH Moh Syafii dan sesepuh desa lainnya yang tujuannya mengenang perjuangan ulama dan sarana menjaga tradisi yang telah mengakar di tengah masyarakat,” tuturnya.
Selain menjadi kegiatan keagamaan dan budaya, peringatan haul ini juga turut menggerakkan perekonomian desa. Sebanyak 288 pelaku UMKM lokal dilibatkan dalam kegiatan tersebut di sekitar area acara.
“Selain untuk menjaga tradisi, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat lokal,” tutup Aang.
