INFOGRESIK – Jarak ratusan mil laut dari daratan utama Kabupaten Gresik, Jawa Timur, tidak menjadi penghalang bagi siswa-siswi SDIT Al Huda Bawean untuk bersinar.
Di tengah keterbatasan geografis sebagai sekolah kepulauan, mereka justru membuktikan bahwa semangat menjaga bumi mampu melampaui batas-batas samudra.
Prestasi luar biasa diraih sekolah ini dengan menyabet Juara 2 Lomba Iklim Kwarda Jawa Timur 2025. Capaian tersebut terasa sangat istimewa karena mereka harus bersaing dengan sekitar 1.500 peserta dari berbagai penjuru tanah air.
Bukan sekadar lomba cerdas cermat, ajang ini menantang ketahanan fisik dan mental para siswa melalui aksi iklim nyata selama 21 hari tanpa henti.
Selama tiga minggu penuh, para siswa tidak hanya belajar di kelas. Mereka turun langsung ke lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, serta menciptakan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Tantangan 21 hari ini menuntut konsistensi tinggi, mulai dari kreativitas mengolah limbah hingga edukasi keberlanjutan.
Guru pendamping kegiatan, Ustadzah Kinanti Safitrin Naja, menceritakan bagaimana proses tersebut menempa karakter anak didiknya.
Baca juga: Siswi Penghafal Quran Harumkan Nama Gresik di Tingkat Nasional
“Anak-anak belajar bukan hanya tentang lomba, tetapi tentang tanggung jawab, konsistensi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka menjalani setiap tantangan dengan penuh semangat, meski tidak selalu mudah. Hasil ini adalah buah dari proses panjang yang penuh perjuangan,” ungkapnya.
Perjuangan itu juga dirasakan langsung oleh salah satu perwakilan peserta, Faiqotur Riyasah IzzIyah. Baginya, 21 hari tersebut menjadi perjalanan untuk mengubah kebiasaan.
“Kami senang dan bangga bisa ikut lomba ini. Selama 21 hari kami belajar menjaga lingkungan, bekerja sama, dan tidak mudah menyerah. Juara ini membuat kami semakin semangat untuk terus peduli pada bumi,” kata Faiqotur.
Keberhasilan ini sekaligus mematahkan stigma bahwa sekolah di wilayah terpencil sulit bersaing di tingkat nasional. Dukungan penuh dari Kwarcab Gresik dan Kwarran Sangkapura menjadi energi tambahan agar sekolah tetap tertib dan terarah selama kompetisi berlangsung.
Kepala SDIT Al Huda Bawean, Rissky Wahyu Saputra, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, kemenangan ini menjadi momentum pembuktian karakter.
“Alhamdulillah, prestasi ini adalah hasil kerja keras, kedisiplinan, dan kekompakan siswa, guru, serta dukungan orang tua. Juara 2 dari 1.500 peserta bukan hanya kebanggaan sekolah, tetapi juga bukti bahwa pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan bisa ditanamkan melalui aksi nyata. Semoga ini menjadi motivasi untuk terus berkontribusi menjaga bumi,” ujarnya.
Baca juga: Empat Siswa SD NU 1 Trate Gresik Raih 6 Medali di Kejuaraan Robotic Malaysia
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Daarul Fikri, Ustadzah Elia Puspa. Ia menilai keberhasilan tersebut lahir dari perpaduan nilai keimanan dan ilmu pengetahuan.
“Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang menanamkan nilai iman, ilmu, dan kepedulian lingkungan mampu melahirkan generasi berkarakter dan berprestasi. Semoga capaian ini menjadi amal jariyah dan inspirasi bagi sekolah lainnya,” tuturnya.
Bagi peserta lainnya, Meilina Elistalita Syahbani, piala yang dibawa pulang hanyalah simbol. Pelajaran terpenting adalah bagaimana memulai perubahan dari diri sendiri.
“Lomba ini memberi kami pengalaman berharga. Kami belajar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil dan dilakukan bersama-sama. Terima kasih untuk guru dan semua yang sudah mendampingi kami,” ujarnya.
Dari pesisir Bawean, anak-anak SDIT Al Huda mengirimkan pesan kuat ke seluruh Indonesia: peduli pada bumi tidak membutuhkan lokasi strategis, melainkan hati yang tulus dan aksi yang konsisten.
