INFOGRESIK – Menjelang akhir tahun 2024, dua kekayaan budaya di Kabupaten Gresik yakni Rumah Dhurung Bawean dan Pudak ditetapkan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb) tahun 2024 tingkat nasional oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Pemberian penghargaan itu diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Disparekrafbudpora) drg. Saifudin Ghozali dalam acara Komfilasi Jawa Timur 2024 yang berlangsung di Gedung Cak Durasim Surabaya pada Minggu (8/12/2024) lalu.
Dikatakan Ghozali penetapan rumah tradisional Bawean berupa Dhurung dan jajanan Pudak semakin melengkapi penghargaan WBTb yang sudah diperoleh Gresik.
“Dengan masuknya Dhurung dan Pudak jadi total ada 6 yang sudah didapatkan Gresik. Sebelumnya ada Damar Kurung, Sanggring Gumeno, Gulat Okol Desa Setro, dan Sego Krawu,” ujar Ghozali, Selasa (10/12/2024).
Perolehan ini, lanjut Ghozali, semakin mempertegas identitas budaya dan menjadi penyemangat pelestarian warisan budaya di Kota Santri.
“Kami akan melibatkan masyarakat dan generasi muda agar terus mencintai dan melestarikan budaya Gresik,” ungkapnya.
Diketahui, Pudak merupakan makanan khas Kabupaten Gresik yang sudah ada sejak dahulu. Nyonya Tjio diakui sebagai orang yang pertama kali membuat pudak pada tahun 1950.
Jajanan legendaris yang terbuat dari tepung beras, santan, dan gula Jawa ini dimasak dengan cara dikukus. Jajanan yang dibungkus dengan pelepah pohon pinang ini memiliki rasa manis dan biasa dijadikan oleh-oleh.
Sementara Rumah Dhurung merupakan bangunan tradisional yang berada di Pulau Bawean. Bangunan tradisional ini berbahan kayu dengan bentuk yang khas. Dilengkapi atap berbentuk segitiga berbahan daun nipah kering.
Bangunan arsitektur khas Pulau Bawean ini memiliki banyak fungsi. Salah satunya adalah sebagai tempat penyimpanan padi hasil petani setempat untuk menjaga kualitasnya.
Selain sebagai tempat penyimpanan padi hasil petani setempat, Rumah Dhurung juga digunakan sebagai tempat istirahat dan bersantai bagi warga, terutama saat sore hari setelah seharian bekerja di ladang.
