INFOGRESIK – Pembangunan Kampung Adat Malasigi di Distrik Klayili, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, untuk jadi tempat wisata, penuh lika-liku perjuangan hingga akhirnya bisa bersinar sampai saat ini.
Hal ini disampaikan Kepala Kampung Malisigi sekaligus Lokal Hero Sorong, Menase Fami, saat menjadi narasumber di Media Gathering 2025 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Hotel Claro Kota Makassar, Senin (23/6/2025).
“Banyak rintangan untuk membuat kampung wisata. Di tempat kami kalau bicara tanpa bukti tidak ada yang percaya. Masyarakat diawal, butuh bukti,” kata Menase.
Dia bercerita, untuk membuat tempat wisata yang dapat dikenal punya potensi keanekaragaman hayati dan sumber daya alam hutan yang berlimpah, di antaranya lima satwa endemik Papua jenis burung cenderawasih, yaitu cendrawasih kecil (Lesser Bird of Paradise), cendrawasih raja (King Bird of Paradise), cendrawasih mati-kawat (Twelve-wired Bird of Paradise), cendrawasih belah-rotan (Magnificent Bird of Paradise), dan toowa cemerlang (Magnificent Riflebird), bukanlah sesuatu yang mudah.
Namun, komitmen dan semangat menjaga hutan serta budaya tradisi adat Suku Moi, terus bergelora di hati dan jiwa masyarakat adat Malasigi. “Hutan adalah mama. Tempat kami mencari makan. Untuk itu kita harus jaga,” ungkapnya.
Sejak dirintis pada tahun 2009, lanjut Menase, ia bersama masyarakat harus rela bekerja secara swadaya. Salah satunya dengan mengumpulkan uang dari hasil berburu hewan rusa. Pelan tapi pasti, sejumlah fasilitas seperti toilet dan genset dapat dibangun.
Sayangnya, masalah yang dihadapi tidak berhenti di situ. Selain menghadapi ancaman pembukaan lahan oleh perusahaan, warga juga harus bergotong royong untuk membeli bahan bakar genset. “Saat menggunakan genset, dalam semalam habis 25 liter solar, atau dalam sebulan habis uang Rp40-50 juta,” ujarnya.
Kesulitan demi kesulitan akhirnya menemukan titik solusi, berkat kehadiran program Desa Energi Berdikari (DEB) dari Corporate Social Responsibility (CSR), khususnya dalam aspek Community Involvement & Development (CID) PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai Subholding Upstream Pertamina.
Melalui Pertamina EP Papua Field, Zona 14 Regional Indonesia Timur dilakukan pengembangan ekowisata dengan memanfaatkan sumber daya hutan secara berkelanjutan, dan menggunakan energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas panel Surya 8,72 kilowatt peak (kWp).
“Kini kita tak perlu beli BBM untuk menghidupkan genset. Sudah ada PLTS. Juga, air bersih dulu kami timba, sekarang kami tinggal putar dari rumah,” ucap Menase sambil tersenyum.
Kerja keras dan kolaborasi akhirnya membuahkan hasil usai Kampung Malasigi terpilih sebagai Juara 1 Desa Wisata Rintisan pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang diadakan Kementerian Pariwisata.
