INFOGRESIK – Dari luar, tempat itu tampak sederhana. Namun, aroma gurih bakaran daging yang terbawa angin sepoi-sepoi di Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, seolah menuntun siapa saja untuk menepi. Di sudut jalan itulah berdiri Sate Pojok Lowayu, sebuah destinasi kuliner legendaris yang telah menjadi bagian dari identitas rasa di Kota Pudak sejak 1987.
Menjejakkan kaki ke dalam warung ini seperti memasuki ruang nostalgia. Di salah satu sudut dinding, berderet bingkai foto yang merekam jejak para tokoh dan pejabat daerah yang pernah singgah, mulai dari bupati hingga kapolres Gresik.
Kendati kerap dikunjungi sejumlah pejabat, kesederhanaan warung tetap dipertahankan oleh pengelolanya, Maria Ulfa, yang kini tercatat sebagai generasi ketujuh penerus usaha keluarga tersebut.
Baca juga: Bikin Nagih, Ikan Segar dan Sambal Mentah Jadi Kunci Lezatnya Ikan Bakar Bawean
Cita rasa unik menjadi salah satu alasan tradisi kuliner ini mampu bertahan selama puluhan tahun. Berbeda dari sate kambing pada umumnya, Sate Pojok Lowayu menyajikan potongan daging berukuran kecil.
Karena potongannya yang mungil, masyarakat dan pelanggan sekitar kemudian menjulukinya sebagai sate laler. Meski berukuran kecil, tekstur dagingnya sangat empuk dan tidak berbau prengus. Sajian tersebut dipadukan dengan bumbu khas serta racikan kuah gulai yang gurih dan kaya rempah.
Kelezatan tersebut turut dirasakan anggota DPRD Gresik, Ricke Mayumi, yang sengaja mampir bersama rekan-rekannya untuk makan siang di sela perjalanan mereka pada Sabtu (15/8/2026). Meski baru pertama kali mencicipinya, ia mengaku langsung terpikat.

“Enak, tidak prengus. Mungkin karena kambingnya muda, juga tidak alot,” katanya.
“Ini tadi waktu lewat terus mampir ke sini makan siang bersama teman-teman,” lanjut Ricke menceritakan pengalamannya.
Sensasi kuliner legendaris ini ditawarkan dengan harga yang cukup bersahabat. Satu porsi sate lengkap dengan minuman dibanderol sekitar Rp35 ribu, sedangkan satu porsi gulai kambing hangat dipatok Rp25 ribu.
Setiap hari, warung yang beroperasi mulai pukul 07.00 hingga 19.00 WIB ini selalu ramai dipadati pelanggan. Skala usahanya pun terbilang fantastis untuk ukuran warung di tingkat desa.
Baca juga: Menjeda Waktu di Warung Kuwali Sidayu, Menikmati Kuliner ‘Ndeso’ di Bawah Atap Bambu
“Bisa menghabiskan empat ekor sampai 10 ekor kambing setiap harinya,” ujar Ulfa, mengungkapkan tingginya animo penikmat sate di tempatnya.
Bagi pencinta kuliner yang melintasi kawasan utara Gresik, Sate Pojok Lowayu bukan sekadar tempat menghilangkan lapar. Warung ini menjadi persinggahan cita rasa, tempat tradisi olahan kambing muda bertajuk sate laler terus dirawat dan dinikmati lintas generasi.
