INFOGRESIK – Sebagai upaya menumbuhkan kesadaran pelestarian sejarah, siswa kelas IX Fez SMP Muhammadiyah 12 GKB (Spemdalas) menggelar sesi foto akhir tahun di Rumah Dinas Wakil Bupati Gresik, Jumat (6/2/2026). Bangunan tersebut dipilih karena berstatus sebagai cagar budaya yang memiliki nilai historis tinggi bagi Kabupaten Gresik.
Rumah dinas ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Kabupaten melalui Surat Keputusan Bupati Nomor 028/428/HK/437.12/2020. Bangunan tersebut menjadi saksi bisu perkembangan tata kota pelabuhan Gresik sejak abad ke-18.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya berpose untuk foto perpisahan, tetapi juga mendapatkan edukasi mengenai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Wakil Bupati Gresik, dr. Asluchul Alif, mengapresiasi langkah sekolah yang dinilai mampu mendekatkan generasi muda dengan aset bersejarah daerah.
“Kami sangat senang dan mengapresiasi pihak SMP Muhammadiyah 12 GKB yang mengenalkan sejarah Gresik kepada siswa, khususnya kelas IX Fez. Anak-anak bisa belajar sejarah Kabupaten Gresik secara langsung dengan datang ke tempat-tempat bersejarah seperti rumah dinas ini,” ujarnya.
Baca juga: Belajar Sejarah, Puluhan Siswa Kunjungi Museum Kanjeng Sepuh
Wakil Kepala SMP Muhammadiyah 12 GKB, Ichwan Arif, menegaskan bahwa kunjungan ke rumah dinas tersebut merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual untuk membangun identitas diri siswa melalui pemahaman sejarah.
“Kami ingin siswa pulang tidak hanya membawa foto kenangan, tetapi juga pengetahuan serta rasa bangga terhadap sejarah daerahnya,” tuturnya.
Pemilihan lokasi ini, lanjutnya, juga dilakukan secara sengaja untuk mendukung tema estetika klasik yang diusung para siswa. Ketua Kelas IX Fez, Arkandaris, menyebut atmosfer bangunan cagar budaya memberikan kesan yang berbeda.
“Kami sengaja memilih Rumah Dinas Wakil Bupati Gresik karena memiliki vibes bersejarah dan merupakan bangunan cagar budaya khas Gresik. Apalagi kami menggunakan kostum bertema Bumi Manusia, jadi semakin sesuai dengan latar dan suasananya,” ungkapnya.
Selama kegiatan berlangsung, pendamping Fihalisa Mughi Tri Alya turut memaparkan konsep konservasi serta pemanfaatan bangunan kuno. Melalui integrasi dokumentasi dan edukasi ini, Spemdalas berharap para siswa dapat memahami bahwa menjaga keaslian warisan budaya merupakan tanggung jawab bersama demi masa depan.
