INFOGRESIK — Sebanyak 30 petani tambak di Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, menerapkan inovasi budidaya rumput laut dengan metode polikultur di lahan seluas sekitar 70 hektare.
Melalui metode yang menggabungkan rumput laut jenis Gracilaria dengan ikan bandeng dan udang dalam satu tambak, para petambak mampu memanen hingga 30 ton rumput laut basah setiap bulan.
Keunggulan metode budidaya ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tambak, tetapi juga berdampak positif terhadap kualitas ekosistem dan pertumbuhan ikan bandeng.
Kepala Desa Pangkahkulon, Ahmad Fauron, menjelaskan bahwa keberadaan rumput laut justru memberikan manfaat besar bagi perkembangan ikan bandeng.
Baca juga: Tingkatkan Kemandirian Ekonomi, Nelayan Pangkahkulon Dirikan BUMNel
“Bahkan setelah ada rumput laut ini, perkembangan ikan bandeng menjadi lebih baik. Air tambak juga terlihat bening seperti akuarium,” ujarnya, Minggu (9/8/2026).
Sistem polikultur memungkinkan satu lahan tambak menghasilkan beberapa komoditas sekaligus tanpa saling mengganggu. Petani dapat memanen rumput laut secara berkala sembari menunggu masa panen ikan bandeng dan udang.
“Rumput laut ini bisa diolah menjadi berbagai produk turunan, mulai dari bahan pangan hingga kosmetik. Jadi potensinya sangat besar,” jelas Fauron.
Selain dipasarkan di dalam negeri, hasil panen rumput laut dari tambak polikultur tersebut juga telah memenuhi standar internasional. Koperasi yang menaungi para petani bahkan telah mengantongi sertifikat HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points).
“Rumput laut yang diproduksi petani ini sudah layak dan siap diekspor karena telah memenuhi berbagai persyaratan,” ungkapnya.
Inovasi budidaya rumput laut yang dipadukan dengan tambak bandeng ini turut mendapat apresiasi dari Anggota Komisi II DPRD Gresik, Ricke Mayumi dan Nasikhul Khakim, yang meninjau langsung proses budidaya hingga pengemasan produk.

Ricke memuji kejelian para petambak dalam menciptakan nilai tambah tanpa meninggalkan komoditas utama mereka.
“Mereka tidak hanya bergantung pada bandeng, tetapi juga mampu melihat potensi rumput laut yang ternyata memiliki pasar cukup bagus,” ujar politisi Partai Gerindra tersebut.
Melihat keberhasilan integrasi budidaya rumput laut dan bandeng di Pangkahkulon, Nasikhul Khakim mengaku tertarik untuk menerapkannya di daerah lain. Ia bahkan membawa bibit rumput laut dari Pangkahkulon untuk diuji coba di tambak miliknya.
“Ini nanti saya coba di tambak Duduksampeyan karena memiliki karakteristik yang sama, yakni air payau,” kata Nasik.
