INFOGRESIK — Penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) pada proyek percontohan di PT Petrokimia Gresik (Persero) mencatatkan hasil signifikan. Teknologi ini mampu menangkap karbon dioksida (CO₂) dengan tingkat efisiensi mencapai 91,48–97,79 persen.
Inovasi tersebut memungkinkan emisi CO₂ dari proses industri ditangkap dan diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi, yakni soda ash (natrium karbonat).
Berdasarkan pengujian pada Mei 2026, teknologi CCU tersebut berhasil menghasilkan soda ash dengan kadar natrium karbonat (Na₂CO₃) sebesar 99,12–99,73 persen. Secara teknis, kualitas produk ini telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-0598-1989.
Saat meninjau perkembangan proyek percontohan tersebut di Gresik, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026), Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Muhammad Sarmuji, menegaskan bahwa penerapan teknologi CCU menjadi langkah penting dalam upaya dekarbonisasi industri nasional.
Baca juga: Terobos Efisiensi! Petrokimia Gresik Sukses Ciptakan Inovasi Pemanfaatan Silika hingga Raih Paten
“Ini akan menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri yang menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization. Ini akan kita sebarluaskan karena proyek percontohan ini menghasilkan manfaat yang besar,” ujar Sarmuji.
Ia menjelaskan, keunggulan utama teknologi CCU terletak pada kemampuannya memberikan manfaat ganda, yakni menekan emisi karbon sekaligus menghasilkan produk bernilai jual. Dengan demikian, upaya mewujudkan industri ramah lingkungan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai beban biaya, tetapi juga sebagai peluang ekonomi.
“Tentu harus kita evaluasi terus-menerus supaya ini bisa berlaku sebagai sebuah skala industri, bukan hanya pilot project. Kita akan punya roadmap ke sana,” jelasnya.
Proyek percontohan CCU ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), PT Pupuk Indonesia (Persero), Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc.
Dalam kerja sama tersebut, UWin menyediakan teknologi dan peralatan. Kemenperin mengoordinasikan pemantauan dan evaluasi, sedangkan Petrokimia Gresik dan Pupuk Indonesia menyediakan lokasi, utilitas, serta fasilitas pengujian laboratorium.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa keberhasilan pengujian teknologi CCU menjadi bukti konsep (proof of concept) sebelum teknologi tersebut dikembangkan ke tahap komersialisasi.
“Hari ini kita menyaksikan proof of concept, artinya teknologi baru yang sudah terbukti bisa dimanfaatkan menghasilkan hal yang bermanfaat. Tadi arahan dari Bapak Menteri untuk meningkatkan menjadi komersial. Hitung-hitungan komersialnya nanti kami akan hitung ketika ini meningkat menjadi komersial,” ungkap Rahmad.
“Kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya dekarbonisasi sebagaimana diarahkan dan diberikan instruksi oleh Kementerian Perindustrian,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menegaskan bahwa teknologi CCU merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan operasional yang berkelanjutan.
“Petrokimia Gresik berkomitmen menerapkan prinsip keberlanjutan dalam operasional perusahaan melalui efisiensi, inovasi, dan pengelolaan lingkungan. Komitmen ini juga kami wujudkan dengan menjadi lokasi proyek percontohan CCU bersama Kementerian Perindustrian dan UWin. Kami berharap kolaborasi ini turut mendorong industri nasional yang lebih ramah lingkungan dan berdaya saing,” ujar Daconi.
Selain menerapkan teknologi CCU, Petrokimia Gresik telah menetapkan peta jalan (roadmap) dekarbonisasi untuk mendukung target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 dan Net Zero Emission (NZE) 2060.
Hingga 2025, perusahaan mencatat pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) hampir 400 ribu ton setara CO₂ (CO₂e). Capaian tersebut diperoleh melalui berbagai inisiatif, antara lain penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), efisiensi energi di Amonia II, serta elektrifikasi armada operasional.
Ke depan, pengembangan teknologi juga akan diperluas untuk menangani polutan udara lainnya. Kolaborasi tersebut dijadwalkan menguji teknologi pengurangan partikulat halus PM2.5 di Unit Pembangkit Batubara Petrokimia Gresik hingga Juli 2028.
“Keberlanjutan adalah bagian dari komitmen Petrokimia Gresik. Karena itu, kami mendukung kolaborasi ini dengan menyediakan lokasi dan fasilitas agar inovasi teknologi dapat diuji di lingkungan industri, sesuai peran perusahaan,” tutup Daconi.
